Kasus yang mirip dengan yang diungkapkan oleh Prof. Mudji di atas, terjadi pula di lingkungan tempat saya bekerja beberapa waktu yang lalu. Banyak orang, termasuk saya, mendapat SMS dari seseorang yang mengatasnamakan KEPALA DINAS PENDIDIKAN PROVINSI yang memberitahu bahwa penerima pesan mendapat tugas untuk mengikuti Seminar atau Konggres Internasional di Jakarta. Beliau sebagai pejabat, AKAN MENTRASFER SEJUMLAH UANG (jumlah yang cukup memikat hati) melalui ATM untuk biaya mengikuti Seminar di Jakarta.
Saya langsung curiga dengan SMS tersebut, sehingga langsung saya hapus. Ternyata ada beberapa teman yang jadi korban, ada yang banyak, ada yang besarnya sejumlah gaji yang diterima pada bulan itu, pokoknya sejumlah dana yang tersisa di ATM. Para korban nampaknya ‘dihipnotis’ karena pada proses yang seharusnya dia menerima transfer, dengan panduan dari pelaku melalui telepon, malah mentransfer seluruh uang yang ada di ATM ke pelaku tindak kejahatan.
Saya mengatakan dihipnotis, karena saya memperhatikan ada sesuatu yang janggal yang terjadi pada atasan saya, yang juga menerima SMS. Setelah membaca SMS, tiba-tiba sambil jalan beliau mengatakan “ Sebentar ya, saya mau ke ATM, ada yang penting”. Saya sempat kaget, kok begitu mendadak. Namun, Allah masih melindungi beliau, karena sampai di ATM, ada antrian panjang. Melihat situasi ini, beliau teringat beberapa mahasiswanya yang menunggu di kantor untuk konsultasi. Akhirnya beliau putuskan untuk kembali ke kantor. Beberapa saat kemudian, beliau ditelpon oleh pelaku, ditanya mengapa belum ke ATM. Atasan saya itu dengan tegasnya mengatakan “Pak, kalau memang mau ditransfer, ya silahkan ditransfer saja, nanti saya ambilnya, saya tidak bisa ke ATM, karena banyak mahasiswa yang menunggu saya. Kemudian si pelaku mengatakan : “Tidak bisa Bu, Ibu harus ke ATM sendiri”. “Kalau Ibu tidak bisa ke ATM, uang tidak saya transfer”. Atasan saya menjawab dengan tegas: “Tidak ditransfer, tidak apa-apa Pak”, “Saya tidak jadi Seminar juga tidak apa-apa”. Dan alhamdulillah, beliau malah selamat dengan keputusan yang diambilnya.
Mungkin yang terjadi dengan Prof. Mudji ini mirip dengan yang saya ceritakan. Nama beliau dimanfaat oleh orang yang berniat tidak baik untuk mendapatkan sejumlah uang dngan cara yang tidak benar. Selain melalui website, mungkin Prof. Mudji perlu mengirim pesan ke semua teman-teman beliau, siapa tahu teman-teman beliau menjadi sasaran dari perbuatan yang melanggar hukum ini.
Semoga pengalaman di atas bermanfaat. Kita memang harus selalu waspada.
Saya langsung curiga dengan SMS tersebut, sehingga langsung saya hapus. Ternyata ada beberapa teman yang jadi korban, ada yang banyak, ada yang besarnya sejumlah gaji yang diterima pada bulan itu, pokoknya sejumlah dana yang tersisa di ATM. Para korban nampaknya ‘dihipnotis’ karena pada proses yang seharusnya dia menerima transfer, dengan panduan dari pelaku melalui telepon, malah mentransfer seluruh uang yang ada di ATM ke pelaku tindak kejahatan.
Saya mengatakan dihipnotis, karena saya memperhatikan ada sesuatu yang janggal yang terjadi pada atasan saya, yang juga menerima SMS. Setelah membaca SMS, tiba-tiba sambil jalan beliau mengatakan “ Sebentar ya, saya mau ke ATM, ada yang penting”. Saya sempat kaget, kok begitu mendadak. Namun, Allah masih melindungi beliau, karena sampai di ATM, ada antrian panjang. Melihat situasi ini, beliau teringat beberapa mahasiswanya yang menunggu di kantor untuk konsultasi. Akhirnya beliau putuskan untuk kembali ke kantor. Beberapa saat kemudian, beliau ditelpon oleh pelaku, ditanya mengapa belum ke ATM. Atasan saya itu dengan tegasnya mengatakan “Pak, kalau memang mau ditransfer, ya silahkan ditransfer saja, nanti saya ambilnya, saya tidak bisa ke ATM, karena banyak mahasiswa yang menunggu saya. Kemudian si pelaku mengatakan : “Tidak bisa Bu, Ibu harus ke ATM sendiri”. “Kalau Ibu tidak bisa ke ATM, uang tidak saya transfer”. Atasan saya menjawab dengan tegas: “Tidak ditransfer, tidak apa-apa Pak”, “Saya tidak jadi Seminar juga tidak apa-apa”. Dan alhamdulillah, beliau malah selamat dengan keputusan yang diambilnya.
Mungkin yang terjadi dengan Prof. Mudji ini mirip dengan yang saya ceritakan. Nama beliau dimanfaat oleh orang yang berniat tidak baik untuk mendapatkan sejumlah uang dngan cara yang tidak benar. Selain melalui website, mungkin Prof. Mudji perlu mengirim pesan ke semua teman-teman beliau, siapa tahu teman-teman beliau menjadi sasaran dari perbuatan yang melanggar hukum ini.
Semoga pengalaman di atas bermanfaat. Kita memang harus selalu waspada.



















