Malang, January 26, 2012, at 2 am.
| Sejarah Penelitian Kualitatif (Bagian 2 habis) |
|
|
|
| Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si |
| Tuesday, 24 January 2012 02:07 |
|
Sebagaimana diuraikan pada tulisan sebelumnya, penelitian kualitatif ternyata memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks. Disebut panjang karena berdasarkan pelacakan literatur cikal bakal penelitian kualitatif sudah dimulai sejak abad ke-15 oleh para antropolog yang mengkaji tentang keragaman (diversity) masyarakat. Tetapi kajian secara sistematis dan menjadi bangunan pengetahuan metodologis yang utuh baru dimulai awal tahun 1900-an. Karena itu, masa tersebut disebut sebagai periode awal (tradisional) penelitian kualitatif. Disebut kompleks karena berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, filsafat, sejarah, bahasa, dan ilmu kesehatan saling berkontribusi pada bangunan pengetahuan (body of knowledge) metode tersebut. Karena itu, penelitian kualitatif bermulti perspektif. Oleh Denzin (dalam Given, 2008: 311) sejarah panjang tersebut dibagi menjadi delapan periode, yang dimulai periode tradisional (1900-1950), masa kejayaan (golden age) (1950-1970), periode suram (1970-1986), periode krisis representasi (1986-1990), periode post-modernisme, periode eksperimental dan etnografi baru (1990-1995), periode post-eksperimental (1995-2000), periode pertarungan metodologis (2000-2004), dan periode kini (2005- sekarang). Berikut uraian ringkas mengenai masing-masing periode tersebut:
Periodisasi sejarah penelitian kualitatif tersebut tidak serta merta berlangsung dalam tata urutan yang linier, melainkan simultan dan tumpang tindih. Secara epistemologis, gelombang pasang surut juga menyertai perjalanan tradisi penelitian kualitatif. Para peneliti kualitatif periode tradisional (1900 – 1950) masih bekerja dalam tradisi paradigma positivistik. Kendati sudah menggunakan hasil pengalaman dan pengamatan lapangan sebagai data, mereka masih mengukur validitas, reliabilitas, dan objektivitas dalam menginterpretasi data, sebagaimana dalam tradisi positivistik. Hal-hal di luar yang tampak dan teramati masih dianggap aneh dan asing. Peneliti kualitatif periode ini masih sangat diwarnai oleh tradisi positivistik yang mendasarkan analisisnya pada data objektif yang tampak. Setelah periode tradisional, metode kualitatif memasuki masa kejayaan dan periode suram yang berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga 1970-an. Periode ini dikaitkan dengan kelahiran post-positivisme. Pada saat yang sama perspektif baru dalam penelitian kualitatif seperti hermeneutika, strukturalisme, semiotika, fenomenologi, studi budaya, interaksionisme simbolik, konstruktivisme, etnometodologi, teori kritis, neo-Marxisme, dan feminisme muncul dan menjadikan metode penelitian kualitatif sangat kompleks. Kompleksitasnya tidak saja disebabkan oleh wilayah kajiannya berupa fenomena sosial yang memang rumit, tetapi juga karena keragaman perspektif yang dipakai. Itu sebabnya penelitian kualitatif tidak memiliki pola yang baku, sebagaimana penelitian kuantitatif, lebih-lebih pada model analisis datanya. Tetapi di sisi lain, periode ini dikenal sebagai masa kejayaan ilmu-ilmu sosial. Pada periode suram (blurred period), ilmu-ilmu humaniora menjadi wilayah kajian utama teori-teori interpretif kritis. Akibatnya, peneliti kualitatif harus belajar bagaimana mengambil perspektif dari disiplin lain. Ini bukan pekerjaan gampang. Pada periode tersebut juga mulai dikenalkan metode penelitian kualitatif terapan (applied qualitative research). Penelitian grounded, studi kasus, dan metode historis, biografi, etnografi, dan penelitian klinis juga mulai dikenalkan. Komputer juga mulai dipakai untuk menganalisis data kualitatif, berupa teks, catatan lapangan, dan transkrip. Periode berikutnya disebut periode krisis representasi (crisis of representation) di mana peneliti berjuang keras bagaimana meletakkan diri mereka di tengah-tengah terjadinya diaspora metodologis. Sebab, para peneliti humaniora pindah ke ilmu-ilmu sosial untuk menemukan teori-teori sosial baru, dan mencari cara baru bagaimana mengkaji budaya populer dan konteks etnografik lokalnya. Sebaliknya, para ilmuwan sosial justru melihat ilmu-ilmu humaniora sebagai lahan kajian yang menarik. Dari ilmu-ilmu humaniora, para ilmuwan sosial juga belajar bagaimana teks-teks sosial tidak bisa dipahami secara linier dan simpel. Pada periode postmodern atau eksperimental, para peneliti terus meninggalkan kriteria-kriteria dasar dalam memahami suatu fenomena. Nilai-nilai moral, dan kritikal juga dimasukkan sebagai bagian dari pemahaman. Memahami tidak sebatas mencari makna atau arti teks, melainkan mempertimbangkan aspek nilai dan ukuran-ukuran moral. Upaya pencarian teori-teori besar (grand theories) diganti dengan teori-teori lokal yang lebih spesifik untuk memahami fenomena sosial dalam situasi khusus dan tertentu. Para peneliti pada periode ini lebih memfokuskan kajiannya pada isu-isu berskala kecil (mikro), daripada isu yang berskala besar, sehingga diperoleh pemahaman yang mendalam. Selanjutnya adalah periode Post-eksperimental (1995-2000) yang merupakan masa di mana para ilmuwan sosial mencoba mencari jembatan antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam penelitian. Berbagai upaya mencari jawaban dicoba dilakukan. Karya Carolyn Ellis dan Arthur Bochner berjudul “Ethnographic Alternatives” merupakan buku monumental yang menandai periode ini. Para peneliti periode ini berupaya mencari cara-cara baru dalam memotret pengalaman hidup melalui etnografi, puisi, teks multi media, data visual, dan sejenisnya. Sejak tahun 2000 hingga 2008, terbit tiga jurnal penelitian kualitatif yang sangat monumental berjudul “Qualitative Inquiry”, “Qualitative Studies”, dan “Qualitative Research”. Periode 2000-2004 para ahli melakukan perdebatan metodologis yang sangat intensif dan perjuangan melawan rezim konservatif, sehingga periode tersebut dikenal sebagai periode pertarungan metodologis. Terakhir adalah periode “Immediate Future” (2005- sekarang). Pada periode ini terjadi pergeseran tujuan ilmu-ilmu sosial dari sekadar untuk memotret fenomena sosial menjadi upaya untuk menciptakan keadilan sosial. Pada periode ini pula terjadi kebangkitan ilmu-ilmu sosial murni. Para ilmuwan sosial mentransformasi lembaga mereka masing-masing melalui metodologi pembebasan.
D. Penutup Penelitian kualitatif memiliki akar dan sejarah panjang sebagaimana diuraikan di muka. Periodisasi metodologis penelitian kualitatif tidak berlangsung secara linier, melainkan simultan. Artinya, metode yang berkembang pada masing-masing periode sejarah penelitian kualitatif hingga kini masih sering dipakai oleh para peneliti. Misalnya, metode periode tradisional hingga kini juga masih muncul dalam praktik penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif terus berkembang seiring dengan perkembangan teori-teori sosial dan filsafat. Misalnya, hermeneutika, strukturalisme, semiotika, fenomenologi, studi budaya, interaksionisme simbolik, konstruktivisme, etnometodologi, teori kritis, neo-Marxisme, dan feminisme semuanya menjadikan paradigma, strategi dan metode analisis data penelitian kualitatif sangat kompleks dan rumit. Metode penelitian kualitatif ditantang untuk terus menemukan dan menemukan kembali metode baru dalam melihat, menginterpretasi, berargumentasi dan menulisnya dalam laporan penelitian. Penelitian kualitatif kini tidak bisa lagi dilihat dari perspektif positivistik yang objekif dan netral. Kelas sosial, ras, gender, etnik semuanya menjadi komponen yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja sehingga menjadikan penelitian kualitatif sebagai proses multikultural yang sangat kompleks. Kini kita hidup dalam tatanan dunia di mana politik menjadi panglima dan kehidupan masyarakat pun tidak lepas dari tekanan tersebut. Sebagai upaya untuk mencari kebenaran, metode penelitian kualitatif juga tidak lepas dari tekanan baik dari dalam maupun dari luar dan bisa merusak perkembangan positif yang telah terjadi selama 30 tahun terakhir. Di sisi lain, para ahli metode penelitian kualitatif terus berupaya mengembangkan metode yang tepat sekaligus mengikuti dinamika masyarakat yang kian kompleks. Karena itu, penelitian kualitatif kontemporer tidak lagi terikat pada satu perspektif, melainkan bisa menggunakan metode, teori dan bahkan paradigma yang luas untuk bisa dipakai memahami kompleksitas kehidupan di abad ini. _____________ Daftar Pustaka
Denzin, Norman K. 2008. EVOLUTION OF QUALITATIVE RESEARCH. Dalam Lisa M.Given (ed.), The SAGE Encyclopedia of QUALITATIVE RESEARCH METHODS”, Volumes 1&2. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore: A SAGE Reference Publication.
Flick, Uwe, Ernst von Kardoff and Ines Steinke (eds.), 2004. A Companion to QUALITATIVE RESEARCH. London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications.
Lockyer, Sharon. 2008. QUALITATIVE RESEARCH, HISTORY OF. Dalam Lisa M.Given (ed.), The SAGE Encyclopedia of QUALITATIVE RESEARCH METHODS”, Volumes 1&2. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore: A SAGE Reference Publication.
Taylor, Peter Charles and John Wallace (eds.). 2007. Qualitative Research in Postmodern Times: Exemplars for Science, Mathematics and Technology Educators. AA Dordrecht, The Netherlands:Springer.
Comments (7)
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |
| Last Updated on Tuesday, 24 January 2012 09:50 |


















