• Beranda
  • Profile
  • Buku Tamu
  • Galeri Foto
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo

Main Menu

  • Home
  • Curriculum Vitae
  • Artikel
  • Agenda
  • Materi Kuliah
  • Pengumuman/Informasi
  • Karya Ilmiah
  • Galeri Foto
  • Buku Tamu

Latest Articles

  • Pemberitahuan
  • 2012
  • Sejarah Penelitian Kualitatif (Bagian 2 habis)
  • SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak
  • Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat

Facebook

Chat

globetrackr

free counters

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday224
mod_vvisit_counterYesterday914
mod_vvisit_counterThis week2467
mod_vvisit_counterThis month18006
mod_vvisit_counterAll444230

Latest Commented On

DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (86 comments)
Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat (3 comments)
“Kami“ dan “Kita” dalam Bahasa Indonesia (14 comments)
Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif (42 comments)
Antara Rumusan Masalah dan Fokus Penelitian; (Bahan Kuliah Metpen, S1, S2, dan S3) (6 comments)
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2] (54 comments)
SEJARAH BARU UIN MALIKI MALANG (7 comments)
Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (77 comments)
SEGERA EVALUASI SBI DAN RSBI (15 comments)
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN (11 comments)

Latest News

Pemberitahuan

21.02.2012 |
... Read more...
Pengumuman MABA 2011

28.07.2011 |
... Read more...
Dear Colleagues and Students,

12.02.2010 |
... Read more...
Joomla! Україна

Polls

Menurut anda artikel apa yang harus diperbanyak
 

Popular

  • Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif
  • DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF
  • PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2]
  • Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman Empirik)
  • PENELITIAN SOSIOLOGIS HUKUM ISLAM
Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat PDF Print E-mail
Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si   
Saturday, 14 January 2012 06:04

 

Tanggal 10-14 Januari 2012 berlangsung Muktamar XI Jami’yyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah, Bululawang, Malang. Acara yang dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri oleh sejumlah menteri serta ribuan muktamarin itu berlangsung hikmat, tetapi tampak gayeng segar. Pasalnya, Ketua Umum PB NU, Dr. KH. Said Agil Siroj yang memberikan sambutan setelah acara pembukaan mengenai posisi penganut aliran thariqah dan warga NU secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan juga bercerita panjang mengenai awal mula thariqah masuk Indonesia memberikan joke-joke segar yang mengundang tepuk tangan dan gelak tawa para hadirin. Dengan gaya berkelakar, KH. Agil Siroj menyampaikan bahwa do’a kyai sekarang ini tidak lagi makbul. Apa sebabnya? Karena para kyai suka membuat proposal ke para pejabat. Tentu saja ucapan Ketua Umum PB NU tersebut mengundang gelak tawa dan tepuk tangan para hadirin dan seluruh muktamarin. Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo yang tampil berikutnya seolah memberikan pidato tandingan kepada KH.Said Agil Siroj. Menurut Pak De Karwo, panggilan akrab Gubernur Jatim tersebut, pendapat Ketua Umum PB NU tersebut tidak benar. Menurut Gubernur, dengan gaya kocaknya, doa para kyai masih tetap makbul. Buktinya, perhelatan sebesar muktamar ini berlangsung lancar tanpa ada kyai yang menyerahkan proposal kepadanya. Lagi-lagi sambutan Gubernur Jatim tersebut juga mengundang gelak tawa seluruh hadirin.

 

Suasana menjadi serius ketika tiba giliran Presiden SBY memberikan sambutan. Dalam amanatnya, Presiden menyampaikan rasa terima kasih atas peran dan kontribusi penganut aliran thariqah sejak sebelum Indonesia merdeka hingga saat ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai bangsa yang sedang membangun, Indonesia tentu mengalami riak-riak dan perjalanan yang tidak selalu mulus dalam perjalanan pembangunan bangsa. Tradisi kaum thariqah yang jernih dan menghindari kekerasan dalam mengajak kebaikan dan dalam menyelesaikan masalah serta lebih mengutamakan doa sangat tepat dengan kultur masyarakat Indonesia, yang terkenal dengan nilai-nilai dan budinya yang luhur.

Selain itu, Presiden juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk, baik mengenai suku, budaya, bahasa, dan agamanya. Kehendak masyarakat begitu beragam dan semua menuntut pelayanan yang baik, lebih-lebih dalam era demokrasi yang sangat terbuka di mana setiap orang menuntut hak yang sama di semua bidang kehidupan. Dalam era keterbukaan yang begitu longgar ternyata benturan atau kekerasan kerap terjadi, termasuk kekerasan atas nama agama.

Selama sepuluh tahun terakhir jumlah kekerasan atas nama agama di Indonesia terus meningkat. The Wahid Institute mencatat bahwa selama tahun 2011 saja terjadi kekerasan sebanyak 48 kasus. Angka tersebut mencapai 25% dari jumlah kekerasan dengan berbagai bentuk dan penyebabnya selama tahun 2011. Kita masih ingat kekerasan fisik hingga memakan korban dialami para pengikut aliran Ahmadiyah dan disusul kekerasan yang sama pada pengikut Syiah di Sampang Madura beberapa waktu lalu. Ini menunjukkan bahwa praktik intoleransi atas dasar agama dan keyakinan di negeri ini masih sangat tinggi. Untuk menyelesaikan persoalan seperti itu tidak bisa melalui kekerasan. Kekerasan tidak bisa dibalas dengan kekerasan, karena akan melahirkan kekerasan baru. Di sini peran para ulama, lebih-lebih ulama thariqah yang lebih mengedepankan kearifan dan kesejukan hati sangat diharapkan.

Selain mengingatkan kondisi plural bangsa yang rentan benturan, Presiden juga menyampaikan bahwa saat ini Indonesia sedang menata kehidupan bernegara dengan berlandaskan empat pilar, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika yang sudah merupakan harga mati bagi bangsa Indonesia. Presiden merasa perlu mengingatkan keempat hal tersebut. Sebab, saat ini Pancasila dikhawatirkan tidak lagi dipahami secara utuh dan dianggap hanya sebagai bahan bacaan pada saat upacara dan dipajang di dinding-dinding kantor pemerintah, UUD 1945 juga dianggap sebagai teks atau dokumen resmi negara yang hanya dianggap sebagai prasyarat eksistensi suatu negara, NKRI juga rawan perpecahan yang dapat mengancam keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika tidak lagi menjadi alat perekat yang handal sebagaimana selama ini diyakini. Buktinya ego sektarian mengemuka di banyak kelompok masyarakat, sehingga wajar jika slogan tersebut kini dipertanyakan. Padahal, lewat konsep Bhineka Tunggal Ika bangsa yang terdiri atas berbagai macam suku, bahasa, dan agama dan hidup dalam gugusan ribuan pulau itu dapat mengelola negara ini dengan baik, bahkan mengusir penjajah menuju kemerdekaan. Jangan-jangan Bhineka Tunggal Ika tinggal slogan semata yang tidak lagi punya makna. Disintegrasi nasional telah melanda berbagai bagian dunia. Nasionalisme dalam bentuk negara bangsa mulai dipertanyakan relevansinya di era global seperti sekarang ini.

Di tengah carut marut persoalan bangsa yang demikian kompleks dan tentu memerlukan sikap untuk mencari solusi dengan tepat, menengok kembali kehadirin thariqah sangat penting. Thariqah tidak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia dan sudah lama menjadi bagian dari kehidupan keagamaan di Indonesia. Thariqah merupakan aliran keagamaan dalam Islam yang bertujuan membersihkan hati dari ketidaksucian melalui doa dan dzikir kepada Allah dengan cara tertentu. Sebab, menurutnya, hati tidak bisa bersih tanpa dzikir yang khusu’ kepada Allah sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Bagi penganut aliran thariqah, perilaku kehidupan Nabi sehari-hari adalah praktik kehidupan rohani dan pengelolaan hati yang dijadikan rujukan utama dalam menjalankan amaliyah. Amaliyah Nabi itu dilanjutkan oleh para sahabat dan sanadnya terus menerus secara bersambung hingga para ulama thariqah saat ini.

Karena memiliki cara sendiri dalam menjalankan amaliyah keagamaan dan perkembangannya semakin pesat dan pengaruhnya di masyarakat semakin besar, aliran thariqah tidak luput dari celaan, karena dianggap melakukan ibadah yang tidak ditemukan dalam syariat Islam. Dianggap mengada-ada dan nambah-nambahi ajaran Islam yang sudah baku. Tetapi atas berbagai celaan, penganut thariqah tidak mempersoalkan, karena menganggap mereka yang mencela itu memang belum tahu dan mengerti thariqah secara mendalam. Karena itu, jika mereka sudah berada dalam alam ma’rifat dan memahami ilmu tasawwuf, mereka akan mengerti dan bisa memahami amaliyah thariqah.

Dalam pengantar buku yang dihimpun oleh KH. A. Aziz Masyhuri yang berjudul “Permasalahan Thariqah” yang berisi hasil-hasil kesepakatan muktamar dan musyawarah besar Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah Nahdlatul Ulama (1957-2005) yang diterbitkan oleh “Khalista” Surabaya tahun 2006 disebutkan bahwa penganut thariqah adalah orang-orang alim dan ‘amil terhadap ketentuan agama. Mereka tidak ceroboh di dalam mengambil keputusan hukum atas sesuatu yang menyangkut agama, apalagi sampai berani menghalalkan sesuatu yang sudah jelas haram hukumnya. Terhadap hukum yang makruh dan subhat saja mereka selalu berhati-hati. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak sengaja melakukan sesuatu yang hukumnya makruh atau subhat saja segera bertaubat dan istighfar.

Kehidupan dan cara mengelola hidup adalah urusan duniawi. Tetapi di mata ulama dan pengikut thariqah memisahkan urusan duniawi dan urusan agama sangat tidak tepat dan bahkan keliru besar. Thariqah mengajak umat Islam mencapai tujuan dan hakikat hidup sebagai hamba Allah dengan cara arif dan damai serta penuh kesejukan, karena pantang menggunakan kekerasan.

Jika ajaran dasar thariqah direnungkan secara mendalam, tampaknya tepat untuk diambil sarinya dalam menata kehidupan masyarakat yang terus berubah ini. Sebagai bagian dari masyarakat global yang terus bergerak cepat, masyarakat Indonesia juga tidak lepas dari gelombang perubahan itu. Tetapi apa pun perubahannya, semuanya harus menuju ke terciptanya masyarakat Indonesia baru yang maju dan sejahtera lahir dan batin. Perubahan-perubahan besar masyarakat dunia akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, dan gelombang demokrasi menyangkut nilai-nilai dasar masyarakat dalam memaknai hidup.

Selain itu, menurut teori perubahan sosial, di tengah masyarakat yang sedang berubah biasanya belum ada nilai-nilai dasar yang dijadikan pedoman. Karena itu, diperlukan ketenangan, kesejukan, kearifan, dan sikap tidak grusa grusu dan sembrono agar proses menuju cita-cita bersama dapat tercapai. Karena itu, ajaran thariqah tentang pengelolaan hidup dan memaknainya sangat relevan untuk menata kehidupan masyarakat Indonesia dalam masa transisi seperti saat ini.

Selamat bermuktamar dengan harapan ada hasil yang bermanfaat, tidak saja bagi penganut aliran thariqah sendiri, tetapi juga masyarakat lain secara luas serta membawa kedamaian bagi semua sebagaimana tema yang diangkat dalam muktamar ke XI ini.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Jami’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat

  • Add New
  • Search
Comments (3)
  • |2012-02-01 03:06:46 zulfan  - Bagimana Elit akademisi Melihatnya?
    avatar
    Ada keharuan yang saya rasakan saat Prof. ikut bertandang menghadiri acara pembukaan Muktamar Tariqah XI ini.
    Dari catatan ini, saya berkesimpulan kalau Prof. sudah memahami apa dan bagaimana Jam'iyyah ini eksis di negara kita.
    Secara eksplisit ingin tahu bagaimana para elit akademisi muslim melihat perkembangan jam'iyyah ini?
    Jawaban dari Prof. bisa menjadi barometer bagaimana elit akademisi melihatnya...
    Reply
  • |2012-02-01 07:04:34 Aries  - Tasawuf Modern
    avatar
    Menarik sekali tema ini diangkat saya jadi teringat buku karangan almarhum Buya Hamka yang berjudul "Tasawuf Modern".....
    Reply
  • |2012-02-22 15:28:49 Sofia
    avatar
    Sorry prof,,,, my comments are not related to this article.
    introduced first,,, I graduated from post-graduate UIN Malang at 2010, yesterday I happened to open the library website of UIN Malang and I opened the link "Tugas Akhir Pascarsajana", there I am trying to find my thesis and then I tried to open the chapter III, IV, and V,, strangely these chapters could be opened easily in PDF format so easy to "copy-paste". I was nervous because of the ease will ultimately facilitate the hands of irresponsible to downloading without permission of the owners and indirectly also open space of proliferation the plagiarist in this country.
    Regards


    Your pupils,,
    Reply
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Saturday, 14 January 2012 07:12
 
 

www.mudjiarahardjo.com 2009