Apa yang dilakukan UIN MALANG - yang orang awam lebih mengidentikkan dengan institusi pendidikan yang mengurusi masalah agama- untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah di Jawa ini sangat dihargai. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari para pemimpin yang sedang mengelola lembaga tersebut, termasuk Prof. Mudji.
Sebagaimana kata Prof. Mudji, bahwa pemegang otoritas sangat berperan dalam ikut menjaga, melestarikan bahasa daerah. Demikian juga denganUNESCO, dalam usahanya untuk mencegah kepunahan bahasa daerah yang sedemikian cepat, dalam Konferensi UNESCO bulan November 1999 telah mencanangkan tanggal 21 Februari (kebetulan sama dengan hari lahir saya) sebagai The International Mother Language Day ‘ Hari Bahasa Ibu Internasional’ yang mulai dirayakan pada tahun 2000. Setiap tahun, ditetapkan tema-tema tertentu, dan tema pada tahun ini adalah "The information and communication technologies for the safeguarding and promotion of languages and linguistic diversity"
Kita bisa melihat dari media, terutama internet, Hari Bahasa Ibu Internasional diperingati di Propinsi Jawa Tengah, Jawa Barat. Propinsi ini melakukan beberapa kegiatan yang tujuannya mengingatkan betapa bahasa daerah sangat berharga dan harus dijaga dari kepunahan karena keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari budayanya. Tentu ada tidaknya perayaan ini bergantung pada kebijakan pemimpin daerah setempat.
Di Jawa Tengah, beberapa tahun yang lalu, Bapak Gubernur Mardiyanto telah menetapkan bahasa Jawa sebagai muatan lokal di dalam kurikulum pendidikan, sehingga akibat positifnya adalah Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa di Universitas Negeri Semarang ‘kebanjiran’ mahasiswa untuk menuntut ilmu, sehingga sekarang ini statusnya menjadi Jurusan.
Pemimpin daerah lain yang memperhatikan kelestarian bahasa Jawa adalah Bupati Karanganyar yang menetapkan salah satu hari untuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Disertasi beliau pun tentang pelestarian bahasa Jawa.
Rektor Universitas Negeri Semarang juga baru saja menetapkan hari kamis sebagai hari berbahasa Jawa, yang dikenal dengan Kemis, aja lali bahasa Jawane.
\
Namun demikian, Prof Mudji mengingatkan bahwa peran dari penguasa saja tidak cukup. Perlu peran dari praktisi, peminat, dan pengkaji bahasa. Bahkan saya berpendapat bahwa ibulah yang paling berperan di dalam mengajarkan bahasa daerah pada anaknya. Mungkin oleh karena itulah bahasa daerah/lokal sering juga dinamai sebagai bahasa ibu, mother language , atau langue maternelle dalam bahasa Prancis. Kenapa ibu, karena ibulah yang paling dekat dengan anak, dengan demikian ibulah yang paling sering berkomunikasi dengan anak. Seorang ibu yang bangga dengan bahasa daerahnya, pasti akan berkomunikasi dengan bahasa itu pada anak-anaknya sehingga pemerolehan bahasa yang pertama adalah bahasa daerah.
Sikap positif terhadap bahasa daerah sangat diperlukan untuk dimiliki oleh semua orang. Bahasa daerah tidak akan punah apabila penuturnya mencintai dan mau menjaga bahasa daerah itu dengan menggunakannya di lingkungan keluarga. Di kesempatan yang lain, mereka bangga dengan bahasa nasionalnya dan menggunakannya dalam ranah-ranah yang diperlukan, dan ikut berpartisipasi dalam perkembangan internasional dengan kemampuan bahasa asingnya. Dengan demikian akan terwujud masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam perkembangan global, yang tetap bangga dengan bahasa nasionalnya, dan tetap terjaga jati dirinya melalui bahasa daerahnya. Mungkinkan ini hanya sebuah utopia?


















