• Beranda
  • Profile
  • Buku Tamu
  • Galeri Foto
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo

Main Menu

  • Home
  • Curriculum Vitae
  • Artikel
  • Agenda
  • Materi Kuliah
  • Pengumuman/Informasi
  • Karya Ilmiah
  • Galeri Foto
  • Buku Tamu

Latest Articles

  • Pelajaran di Balik Tragedi Jatuhnya Sukhoi
  • Ujian Nasional 2012: Antara Idealisme dan Pragmatisme
  • Agenda
  • Analisis Wacana Pilkada Aceh
  • PENELITIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM: (Sebuah Pencarian Metodologik)

Facebook

Chat

globetrackr

free counters

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday150
mod_vvisit_counterYesterday883
mod_vvisit_counterThis week7278
mod_vvisit_counterThis month20330
mod_vvisit_counterAll535324

Latest Commented On

Ujian Nasional 2012: Antara Idealisme dan Pragmatisme (2 comments)
Bohong: Mengurai Kebohongan Angelina Sondakh (6 comments)
SEGERA EVALUASI SBI DAN RSBI (16 comments)
ISLAM IN THE PAST TEN YEARS IN INDONESIA AND IN THE WORLD [1] (8 comments)
Anatomi Metodologi Penelitian (15 comments)
Perkembangan Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika (8 comments)
PENELITIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM: (Sebuah Pencarian Metodologik) (4 comments)
Profesi dan Profesionalisasi Keguruan (10 comments)
DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (96 comments)
Ojo Dumeh (5 comments)

Latest News

Pengumuman

19.03.2012 |
... Read more...
Pemberitahuan

21.02.2012 |
... Read more...
Pengumuman MABA 2011

28.07.2011 |
... Read more...
Dear Colleagues and Students,

12.02.2010 |
... Read more...
Joomla! Україна

Polls

Menurut anda artikel apa yang harus diperbanyak
 

Popular

  • Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif
  • DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF
  • PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2]
  • Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman Empirik)
  • Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif
Pengajaran Bahasa Inggris di RSBI, Efektifkah? PDF Print E-mail
Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si   
Thursday, 25 November 2010 04:49

Konferensi Internasional bertema “Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs) pada 11 November 2010 di Bangkok, Thailand menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa asing di sekolah-sekolah di Indonesia yang berstatus rintisan internasional dinilai tidak efektif. Sebabnya adalah tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga masing-masing guru di setiap sekolah mengajar materi berbeda-beda dengan metode pengajaran yang berbeda pula. Kesimpulan tersebut dipaparkan oleh Danny Whitehead, Head of English Development British Council dari hasil penelitian Stephen Bax, dari University of Bedfordshire, Inggris (Kompas, 12/11/2010).

Penelitian itu juga menyebutkan bahwa ketidakefektifan pengajaran bahasa asing disebabkan oleh rendahnya kemampuan guru berbahasa Inggris. Menurutnya, tidak mencapai 25% guru yang ada di sekolah RSBI yang menguasai bahasa Inggris dengan baik, dalam arti mampu berbahasa Inggris dengan baik dan menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa Inggris. Selebihnya, adalah guru yang baru bisa berbahasa Inggris. Itupun pas-pasan. Dari pengamatan yang saya lakukan secara acak, malah ada beberapa guru bidang sains yang baru saja dikursuskan bahasa Inggris dan langsung ditugaskan mengajar di kelas yang mereka sebut sebagai kelas internasional. Bisa dibayangkan bagaimana hasil pengajaran seperti itu. Lebih konyol lagi ada guru yang merasa bisa bahasa Inggris --- karena dulu pernah kursus--- juga minta mengajar di kelas rintisan internasional.

Tampaknya perlu segera diluruskan bahwa seseorang mampu berbahasa Inggris bukan berarti mampu mengajar dalam bahasa Inggris. Ini dua hal yang berbeda. “Teaching English is not teaching in English”. Misalnya, alumni dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sudah barang tentu memiliki kemampuan berbahasa Inggris lebih baik daripada  alumni  dari luar jurusan bahasa Inggris. Tetapi bagaimana mungkin dia bisa mengajar materi sains (biologi, fisika, dan kimia) yang bukan bidangnya. Sementara guru-guru bidang sains yang menguasai materinya tidak bisa berbahasa Inggris. Karena itu, jika praktik pengajaran seperti ini dipaksakan dengan alasan menjalankan amanah undang-undang, maka siswa dirugikan dalam dua hal sekaligus, yaitu :1). secara substantif siswa tidak mengerti apa yang disampaikan guru karena menggunakan pengantar bahasa Inggris --- yang dalam bahasa Indonesia saja belum tentu paham, dan 2).siswa memperoleh role model bahasa Inggris yang tidak bagus, mulai aspek gramatika, pilihan kosa kata, struktur kalimat, hingga pronunciation. Perlu diketahui bahwa kesalahan dari role model yang salah akan sangat sulit diperbaiki di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Selain merugikan siswa, praktik pengajaran seperti itu jutsru bertentangan dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen di mana guru dituntut memiliki empat kompetensi dasar, yaitu: professional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Dari sisi kompetensi professional di mana guru dituntut mengajar bidang studi sesuai disiplin ilmu yang dikuasai, maka praktik pengajaran sebagaimana gambaran di atas justru tidak sesuai dengan nafas undang-undang yang dipakai sebagai payung hokum pelaksanaan.

Oleh sebab itu, hasil penelitian pakar tersebut mesti segera dijadikan bahan evaluasi kebijakan pemerintah tentang pendirian sekolah-sekolah bertaraf internasional yang menggunakan payung hukum  Undang-Undang Nomor 20  tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 50 ayat 3 yang menyatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. Sebenarnya dalam undang-undang tersebut tidak disebutkan kata ‘harus’ menyelenggarakan satuan pendidikan bertaraf internasional di setiap daerah, yang jika tidak dilakukan akan diberi sanksi. Akibatnya, sebagaimana kita saksikan saat ini sekolah-sekolah rintisan menuju taraf internasional semarak di Tanah Air di semua jenjang pendidikan. Saya tidak mengerti siapa yang mereduksi redaksi bunyi undang-undang itu sehingga penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional seolah menjadi keharusan bagi setiap daerah dan satuan pendidikan.

Andai saja hasil yang diperoleh dari kebijakan ‘internasionalisasi sekolah’ tersebut efektif dan memuaskan semua pihak, terutama siswa dan orangtuanya, penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional tentu tidak banyak dipersoalkan orang. Tetapi kenyataannya status sebagai ‘rintisan internasional’ dijadikan dalih bagi pengelola pendidikan untuk menarik beaya pendidikan yang mahal. Alasannya, penyelenggaraan kelas internasional memerlukan sarana dan  prasarana secara khusus, diperlukan guru dengan kompetensi dan kualifikasi khusus, manajemen secara khsusus dan seterusnya yang ujungnya semua memerlukan beaya pendidikan yang tinggi. Beaya pendidikan tinggi hanya akan bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. Sementara sekitar 40 juta warga negara Indonesia tergolong berekonomi golongan menengah ke bawah. Kemudian muncul lagi  pertanyaan klasik: apakah orang golongan ekonomi menengah ke bawah tidak boleh mengenyam pendidikan yang bermutu? Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara, apapun agama, warna kulit, bahasa dan sukunya. Karena itu, adalah kewajiban negara untuk menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas.

Kebijakan tentang internasionalisai pendidikan  kini sudah berusia tujuh tahun sejak diundangkan. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah mengambil kebijakan sangat cepat mengatasi persoalan ini dengan bijak. Sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya “Segera Evaluasi RSBI”, saya bukan tidak setuju dengan kebijakan penyelenggaraan SBI atau RSBI. Tetapi yang menjadi persoalan adalah telah terrjadi simplikasi makna internasionalisasi pendidikan. Karena terjadi kesalahpaham atau ketidakmengertian baik di kalangan pengambil keputusan dan pengelola satuan pendidikan, maka tentu terjadi kesalahan implementasinya.

Bahasa Inggris memang salah satu bahasa internasional. Tetapi internasionalisasi pendidikan bukan sekadar menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mulai sistem pendidikan, kurikulum, standar, dan kualitasnya yang internasional. Karena itu, sungguh tidak tepat  jika berbahasa Inggris dijadikan satu-satunya ukuran penyelenggaraan kelas-kelas internasional.

Saya sedang merenung ke mana sesunggunya bangsa ini akan dibawa. Baru saja kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang pesannya adalah betapa nasionalisme bangsa terutama generasi muda penting dibangun melalui kesadaran berbangsa yang satu di tengah-tengah keragaman budaya, suku, dan agama, serta bahasa nasional yakni bahasa Indonesia, kita justru menguras tenaga untuk menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Saya bukan tidak suka bahasa Inggris, tetapi ingin menempatkan posisi bahasa Inggris secara proporsional. Bahasa Inggris diakui sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Hampir 90% publiksi ilmiah internasional tertulis dalam bahasa Inggris. Karena itu, tidak mungkin untuk menjadi ilmuwan tanpa menguasai bahasa Inggris. Tetapi bahasa Inggris tidak bisa menjadikan anak didik kita  memiliki nasionalisme tentang ‘keindonesiaan’ yang tinggi. Jadi tanpa kita sadari telah terjadi paradoks dalam praktik pendidikan kita. Di satu sisi, kita ingin mengokohkan jati diri bangsa dan nasionalisme salah satunya melalui bahasa Indonesia sebagai bahsa nasional, tetapi di lain pihak kita menggelorakan semanagt pentingnya kekuasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris secara berlebihan. Karena itu, wajaar jika hasil UAN 2010 nillai bahasa Indonesia jeblok.

Sebagai alternatif solusi adalah kebijakan menginternasionalkan sekolah tetap dilaksanakan, tetapi tidak harus semua daerah dan sekolah mengembangkan sekolah rintisan internasional. Pemerintah menyeleksi dengan menunjuk para pakar pendidikan untuk menentukan mana sekolah yang layak untuk dikembangkan ke rintisan internasional. Karena itu, cukup ada beberapa sekolah saja yang memang layak untuk deprogram menjadi sekolah internasional daripada setiap sekolah dan di setiap daerah menyelenggarakan program internasional tetapi sebenarnya main-main saja.

Selanjutnya, sekolah yang dinilai layak terus dipacu dan dibina dengan ukuran standar yang benar-benar internasional. mulai dari aspek kurikulum, input, proses belajar, tenaga pengajar, manajemen, sarana, beaya, evaluasi hingga output nya. Kemampuan berbahasa Inggris guru-guru bidang sains yang mengajar di kelas internasional ditingkatkan pelatihan secara intensif di lembaga-lembaga pendidikan dan pengembangan bahasa Inggris yang credible., setidaknya selama enam bulan penuh dengan pembeayaan pemerintah. Tetapi jangan memaksa guru bahasa Inggris mengajar bidang sains yang memang bukan bidangnya. Mata pelajaran bidang sains tidak bisa diberikan lewat pelatihan sebagaimana bahasa Inggris. Sebab, sains adalah ilmu content, sedangkan bahasa (Inggris) adalah ilmu alat.

Selebihnya, sekolah yang dinilai tidak layak tidak perlu dipaksakan, tetapi ditingkatkan kualitasnya dengan prioritas utama pengembangan kompetensi dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikannya. Untuk menghasilkan lulusan yang kompettif tidak harus melalui internasionalisasi sekolah. Saya sangat yakin di tangan guru yang berkualitas akan lahir lulusan yang berkualitas pula. Sebaliknya, di tangan guru yang kualitasnya rendah, tidak akan pernah lahir lulusan yang bermutu, sekalipun lembaganya berlabel ‘internasional’.

Saya berharap pendidikan yang memiliki misi suci dan mulia tidak jadi salah arah dan fungsi. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan selayaknya memahami secara mendasar filosofis di balik setiap kebijakan yang diambil. Kesalahan pemahaman akan berakibat kesalahan pelaksanaan yang ujungnya adalah merugikan masyarakat. Sudah banyak sekali komentar, ulasan, bahkan penelitian tentang efektifitas penyelenggaraan sekolah-sekolah rintisan internasional yang dilakukan para pakar, pemerhati  dan pecinta pendidikan sudah selayaknya dijadikan evaluasi oleh pemerintah agar pendidikan yang memiliki misi sangat mulia tidak bergeser ke praktik dan tujuan yang salah. Institusi pendidikan yang sarat nilai harus bersih dari kesalahan dan tujuan yang justru mencoreng pendidikan itu sendiri.

Tulisan sederhana ini sekadar urun rembuk untuk memberikan kontribusi pada perbaikan pendidikan di Tanah Air, tetapi diharapkan bermanfaat dan  menjadi bahan renungan semua pihak, terutama pemerintah, para praktisi dan pengelola dan pecinta pendidikan.

Malang, 21 November 2010

  • Add New
  • Search
Comments (26)
  • |2010-12-04 15:24:58 mumu  - jejak artikel
    avatar
    pa artikelnya bagus nih saya boleh minta ga ? makasih
    Reply
  • |2010-12-05 11:04:41 Mudji  - ok please
    avatar


    terima ksih tekah membaca artiek saya.
    Jika bermanfaat silakan dipakai

    Wassalam

    Salam dari Moskow, Russia

    Mudji
    Reply
  • |2010-12-10 03:01:10 iskandar z  - Ulasan yang bagus
    avatar
    Assalamu'alaikum wr wb

    Saya sangat setuju sekali dengan ulasan dari anda. saya sendiri sebagai guru merasa bingung mau dibawa kemana arah pendidikan kita. saya guru jurusan teknikbangunan dari sejak jadi GTT sampai sekarang belum pernah mengajar teknik bangunan, malah ngajar komputer. Kalau merujuk pada UU guru tahun 2005 pasti sangat tidak pas.Tapi anehnya banyak guru teknik yang melanjutkan S1 tapi jurusannya mesin, bahkan ada yang kewirausahaan. Alasannya yang penting S1, bisa sertifikasi...banyak sekolah RSBI, SBI yang stress gurunya karena belum pas. sekolah saya juga RSBI. Kebanyakan sekolah RSBI gurunya banyak yang mengeluh, karena tuntutan banyak tapi tidak di imbangi sarana dan prasaran yang memadai.
    Reply
  • |2010-12-10 03:38:41 Mudji  - Terima kasih
    avatar


    Wa alaikum salam,

    Terima kasih pak atas komentarnya. Semoga tulisan tersebut sempat dibaca oleh para pengambil keputusan di bidang pendidikan kita dan bisa menjadi bahan renungan.

    Terima kasih

    Wassalam

    Mudji
    Reply
  • |2010-12-30 12:45:55 Dini Novianti  - artikel
    avatar
    terima kasih atas ulasannya pak mudjia, saya mohon izin untuk menyertakan kutipan ulasan bapak untuk skripsi saya.

    terima kasih,

    Dini Novianti
    FPMIPA-UPI
    Reply
  • |2011-01-08 03:06:21 waris
    avatar
    Yth Prof Mudji,

    Mudah-mudahan artikel yang bapak sebut sederhana ini dapat membuka mata hati, para pembuat kebijakan di dunia pendidikan kita.

    Menurut himat saya, kata-kata internasional, adalah kata-kata yang sangat menjebak bagi konsumen( murid ) dan itu yang dimanffatkan oleh para pengambil kebijakan di negara kita. Departemen pendidikan punya design yang besar untuk melepas tanggungjawab pendidkan dengan adanya lebel internasional, bukakan demikian bapak. Terima kasih
    Reply
  • |2011-01-22 16:11:46 Rina
    avatar
    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Yth. Prof. Mudji,

    Prof. Mudji, saya adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sekarang saya sedang menyusun skripsi. Saya sangat tertarik sekali dengan RSBI sehingga saya ingin menyusun skripsi tentang RSBI yang sesuai dengan jurusan saya. Tapi saya masih bingung judul dan permasalahan apa yang cocok. saya mohon saran dan bimbingannya kira-kira judul dan permasalahan apa yang cocok untuk skripsi saya. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
    Reply
  • |2011-01-24 01:22:23 Mudji  - Judul bisa belakangan
    avatar


    Mb. Rina yth.,
    Terima kasih atas pertanyaan anda. Dalam penelitian , khususnya kualitatif, judul bisa belakangan. yang paling penting justru apa yang akan anda ingin ketahui ttg RSBI? Itu tentukan dulu. untuk membantu anda, bisa baca artikel saya ttg penelitian di web ini pada menu "Materi Kuliah". Semoa bermanfaat. selamat bekerja.

    Wassalam

    Mudji
    Reply
  • |2011-01-24 16:05:45 Rina
    avatar
    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Yth. Prof. Mudji

    Terima kasih atas saran yang Pak Mudji berikan pada saya. Sungguh artikel, materi kuliah, dan semua tulisan bapak sangat bermanfaat. semua itu bisa memberikan pencerahan bagi saya.



    Wassalam
    Rina Solihat
    Reply
  • |2011-02-01 00:30:39 hestiana rahayu
    avatar
    Assalamualaikum Wr. wb

    artikelnya menarik sekali pak....
    saya minta izin untuk mengutipnya untuk tugas saya kuliah....

    wassalamualaikum wr.wb
    Reply
  • |2011-02-01 03:33:23 Mudji  - Ok
    avatar


    As wr wb.,
    Mbak Hesti yth.,

    Terima kasih telah membaca artikel saya. Jika memang bermanfaat, silakan dipakai.

    terima kasih.

    Wassalam

    Mudji
    Reply
  • |2011-02-01 10:36:58 Lidia sambeta
    avatar
    Yth Bapak Prof
    saya seorang guru disalah satu sekolah RSBI sekarang saya sementara menyusun tesis tentang RSBI untuk itu saya mohon izin untuk mengutip sebagian dr tulisan bapak Yaaaah???, atas kesediaannya dengan tulus saya sampaikan terima kasih
    Reply
  • |2011-02-02 00:29:16 Mudji  - ok
    avatar


    Mb. Lidia yth.,

    Terima kasih telah membaca artikel saya. Jika artikel tsb bermanfat, silakan dijadikan rujukan dan dikutip mana yang diperlukan. Selamat bekerja dan belajar.

    Salam

    Mudji
    Reply
  • |2011-11-19 12:36:38 Lidia Sambeta
    avatar
    Yth. bapak Prof
    makasih buat tulisannya Prof,saya sudah menyelesaikan kuliah saya, saya doakan bapak tetap sehat dan terus berjuang untuk dunia pendidikan.
    Reply
  • |2011-02-27 14:42:42 ken
    avatar
    Yth.Prof. Mudji
    Pak,saya mahasisiwi Universitas Negeri Malang, S1 prodi pendidikan Biologi. Saya sedang dalam proses pengerjaan proposal skripsi saya, berhubungan dengan skripsi saya, saya izin mengutip artikel Anda..
    Saya sangat ingin tahu tentang RSBI, saya jadi bingung dengan judul skripsi saya yang saya rasa kurang pas, menurut bapak judul saya ini, apa yang kurang pas ya? Hubungan Antara Asal Sekolah, Penggunaan Bahasa Pengantar Pembelajaran dan Kemampuan Berbahasa Inggris terhadap Kemampuan Kognitif Biologi Siswa SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Kota Malang...terima kasih sebelumnya Bapak..Mohon Bimbingannya..
    Reply
  • |2011-03-17 13:38:58 Mudji  - judul ok
    avatar

    Mb. Ken yth.,
    Terima kasih telah membaca tulisan saya. jika memang bermanfaat, silakan di'copy'. rencana penelitian anda jelas menggunakan metode penelitian kuantitatif. karena itu kuasai metode tersebut dan temntu statatistik sebagai alat analisis datanya. judul anada sudah ok, tinggal konsultasikan ke pembimbing. yang penting kuasai variabel-variabel yang akan anda korelasikan dan alat untuk memperoleh data.

    Terima kasih.

    Mudji

    Reply
  • |2011-03-17 03:43:46 trisna
    avatar
    pak, artikelnya bagus, sebenarnya saya tertarik untuk mengadakan penelitian tentang keefektifan penggunaan bahasa pengantar dalam pengajaran bahasa inggris,, tapi sya juga masih bingung...
    Reply
  • |2011-03-21 23:28:29 ken  - reply
    avatar
    Sekali lagi terima kasih atas masukannya pak...
    Saya tunggu artikel-artikel cemerlang lainnya dari bapak...terima kasih..
    Reply
  • |2011-05-27 10:22:42 Delima  - mohon ijinnya
    avatar
    pak.... saya sangat suka dan tertarik artikel bapak nih.... benar benar memberikan pengertian yang sangat mendalam dan mohon ijin ya pak. saya mau mengutip untuk menambah proposal untuk tugas akhir saya... sekali lagi makasih banyak ya pak... sukses terus dan makin ok aja...
    Reply
  • |2011-10-23 14:34:50 kartika
    avatar
    PAK artikel ini sangat membantu, trm ksh atas infonya,pak klo judul skripsi seperti ini bagaiman pak?
    STUDI KOMPARASI PENGGUNAAN BAHASA INGGRIS DAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RSBI TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DI SMP 9 SEMARANG
    Reply
  • |2011-10-23 14:45:16 Anonymous
    avatar
    assalamualaiku wr.wb.
    artikelnya sngt membantu , trma kasih pak
    saya ingin konsultasi mengenai judul skripsi, apakah yang kurang?
    STUDI KOMPARASI PENGGUNAAN BAHASA INGGRIS DAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RSBI TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DI SMP 9 SEMARANG
    Reply
  • |2011-10-24 23:20:53 Mudji  - sudah bagus
    avatar

    Wa alaikum salam
    Terima kasih telah membaca tulisan saya. TTg judul skripsi anda, sudah bagus, tetapi fokusnya sebenarnya bukan perbandingan penggunaan bhs Inggris dan bhs Indonesia, melainkan hasil belajar fisika yang diajar dengan menggunakan bhs. Inggris dan bhs. Indonesia. Mohon ditelaah kembali. Terima kasih.
    Wassalam,

    Mudji
    Reply
  • |2011-11-21 08:37:26 Said Mukhlis  - Kursus Bahasa Inggris Bagi Guru MIPA dan TIK
    avatar
    Pak saya baru saja ditunjuk oleh Kepsek menjadi Penanggung Jawab Kegiatan RSBI dan telah merencanakan Kursus Bahasa Inggris bagi Guru MIPA dan TIK, namun setelah membaca artikel bapak, saya jadi ragu karena dulunya saya selalu mengatakan pada teman-teman bahwa yang paling penting di RSBI itu adalah Kurikulumnya yang berstandar internasional sementara bahasa inggrisnya sebagai pengantar saja kalau gurunya mampu. Namun saat ini saya pula yang membuat program kursus ini.
    Jadi sekarang menurut bapak apa yang terbaik yang harus saya lakukan? Mohon Pak sarannya. Terimakasih. Wassalam.
    Reply
  • |2011-11-29 13:28:09 Mudji  - jangan ragu
    avatar

    As wr wb.,
    Mas Said Mukhlis yth.,

    Terima kasih telah membaca tulisan saya, dan mohon maaf jika tulisan tersebut agak 'mengganggu' anda. Sebetulnya tidak perlu ragu. Anda benar bahwa yang penting sekolah RSBI itu kurikulumnya berstandar internasional. dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Mengursuskan bahasa Inggris bagi guru MIPA itu tepat. SEbab, itu jauh lebih bisa diterima secara akademik daripada menjadikan guru bahasa Inggris -- yang sudah tentu menguasai bahasa Inggris --- untuk belajar MIPA. Tetapi jangan sampai terjadi bahasa Inggris menjadi kendala PBM, sehingga tidak paham substansi materi pelajarn karena tidak paham bahasa Inggris. Siswa tidak paham bahasa Inggris yang disampaikan guru bisa karena dua hal: bahasa Inggrisnya guru tidak jelas, atau siswa memang tidak siap menerima materi yang disampaikan dalam bahasa Inggris.
    Yang lebih penting lagi jangan sampai terjadi RSBI* sebagai ajang menarik beaya pendidikan yang tinggi dari masyarakat, sehingga sekolah RSBI hanya dimasuki oleh warga masyarakat berduit.

    SElamat berkarya!
    Wassalam
    Mudji
    Reply
  • |2011-11-21 12:14:30 rama safira
    avatar
    assalamualaikum....pak saya mau tanya, ada ga buku yang jadi patokan tentang sistem pengajaran bahasa inggris di RSBI? apa buku itu dijual bebas ditoko buku? atau buku itu hanya ada disekolah yang bersangkutan?
    mukngkin kepada pak said mukhlis yang menjadi penanggung jawab bisa membantu saya lewat infonya...
    terimakasih......
    Reply
  • |2011-11-24 11:01:51 hendra
    avatar
    :D pak artikel ini bagus banget,smp saya juga rsbi dan hampir semua menguasai bhs inggris,seperti guru sains,mat,dan tik
    Reply
  • |2011-11-29 13:32:42 Mudji  - thanks a lot
    avatar


    Dear Mas Hendra,

    Thanks a lot for having read my artile.
    Go ahead with your RSBI program if everything has run well.

    Wish you success.
    Regards.
    Mudji
    Reply
  • |2012-01-03 03:46:58 shantie  - Artikelnya jempooll banget pak,dan mudah untuk dim
    avatar
    Pak,boleh minta saran ya pak kalau judul tesis "Power Relation embedded in English teacher's talk" kira kira termasuk studi kasus atau natural observation ya pak? karena saya akan mengamati seorang guru yang mengajar dikelas untuk mengetahui power relation yang ada dalam teacher's talknya. terima kasih atas jawaban bapak..

    shantie, kaltim
    Reply
  • |2012-02-28 16:54:17 Misterheri Piwan  - Politik Bahasa Nasional
    avatar
    Assalamualaikum.Wr.Wb.

    Pak, ni artikel bagus banget, saya ijin untuk share.

    Menurut saya, masalah bahasa inggris di Sekolah RSBI bukan berarti ada pengingkaran terhadap bahasa nasional kita pak. Bapak bisa lebih detail lihat lagi media masaa kita lah, berapa banyak kata-kata di adopsi langsung dari b.inggris dalam setiap halamannya. So, pengingkaran itu telah terjadi sebelum RSBI dicanangkan.

    Saya ingat ketika saya kuliah dulu, ada satu mata kuliah berjudul "Politik Bahasa Nasional". Dari judulnya sudah terlihat, bahwa mahasiswa saat itu (enggak tau sekarang)diberikan materi idealisme untuk tetap back to Bahasa Indonesia. Efeknya, ke saya pribadi, tetap menggunakan bahasa inggris secara proporsional.

    Ketika bapak menanyakan efektifitas bahasa inggris di sekolah RSBI, memang perlu dan layak diadakan uji "kelayakan" dan saya yakin bapak lebih paham itu. Sebenarnya tujuan pembelajaran bahasa inggris di RSBI ditinjau dari Kurikulumnya tidak ada perbedaan jauh dengan sekolah Reguler, hanya saja sekolah diberi kebebasan untuk menambahkan Faktor X, yang bercirikan ke-internasional-an. Nah menurut saya di sinilah masalah yang timbul. Meski statusnya sudah RSBI masih saja bahasa pengantarnya indonesia. Memang jika dipaksakan, mis:guru MTK, atau Science, malah akan mengacaukan, dan pemerintah sepertinya mengabaikan hal ini.

    Masalah lainnya yang paling terasa oleh saya adalah di manajemen sekolah pak, betapa kedekatan "The Principal" toward "Local Government Authority" is the most desctructive power.

    Wah masalahnya masih banyak lagi pak.. however, I do thank for the article, and appreciate it much to reflect my own school.

    Wassalamualaikum.Wr.Wb.

    Reply
  • |2012-04-04 08:19:24 PROFESSOR REHULINA TARIGAN  - THE GLOBAL AMERICAN ENGLISH
    avatar
    WORLD PROGRAMS : THE SINGLE MANAGEMENT OF THE WHITE HOUSE IN THE HOLY SPIRIT TO THE GLOBAL CATHOLIC - ORGANIZING TO THE UNIVERSE AND HEAVEN - TOTAL POWER OF AMERICA - GOD JESUS FOR PRESIDENT.

    ICH LIEBE JESUS MEINE GOD, JE SUIT JESUS INTELIGENT.

    PRINCESS REHULINA TARIGAN
    NORTH OF SUMATERA.
    Reply
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 
 

www.mudjiarahardjo.com 2009