avatar
kadang saya berpikir, jika atribusi umat Islam terhadap term-term agamanya terlalu berlebihan. Misalnya, kata khalifatullah yang menjadi judul posting ini. Kalau kita memaknainya secara literal, tentu saja kita akan bertanya, apa iya manusia bisa menggantikan Tuhan di muka bumi ini? Sebuah pertanyaan, yang bagi saya penuh kontradiksi. Karena Tuhan tidak ingin diriNya digantikan oleh siapapun, apalagi oleh makhluk. Term khalifah, yang disematkan pada para sahabat, sebenarnya juga tidak pernah merujuk kepada Tuhan, tapi kepada Nabi SAW. Abu Bakr misalnya, menganggap dirinya khalifah, pengganti, Nabi SAW, dan bukan Tuhan, demikian pula tiga khalifah kemudian. Namun, term khalifah sesungguhnya muncul pada pengangkatan Adam oleh Tuhan. Di sini para pemberi makna khalifah, tidak mengerti, siapa atau apa sebenarnya yang hendak digantikan oleh Adam. Kebanyakan dari mereka malah merujuk kepada kata Tuhan, karena situasi yang sangat memungkinkan pada masa itu. Yang saya maksud, kepercayaan bahwa raja merupakan titisan dan dengan demikian, wakil Tuhan di muka bumi telah sedemikian kuat mempengaruhi pola pikir masyarakat dunia kala itu. Maka ketika mereka masuk Islam, dan konsep kekhalifahan mulai dikenal, merekapun memaknai term tersebut sebagai sebuah legitimasi atas kekuasaan yang mereka miliki. Yakni, kekuasaan untuk berbicara atas nama Tuhan. Tentu saja, para pemberi makna khalifah ini tidak mengenal Darwin, sehingga tidak terlintas dalam benak mereka keberadaan para hominid yang sepenuhnya digantikan oleh manusia. Memang, hominid hanyalah tafsir. Tapi ia tetap memberikan kemungkinan paling masuk akal, daripada tetap menganggap manusia sebagai para pengganti Tuhan, karena dengan begitu sangat bertentangan dengan konsep tauhid.

Kata selanjutnya yang juga berlebihan, menurut kawan saya adalah kata fitri, pada term Idul fitri. Di sini, ia tidak menganggap fitri sebagai fitrah, atau nature manusia, melainkan kembali keakar kata tersebut, yakni berbuka. Idul fitri, dengan demikian, bermakna kembali berbuka, setelah sebulan penuh umat Muslim berpuasa. Pemikiran kawan saya ini, jelas memberikan perspektif baru atas peristiwa Idul fitri. Ia telah kehilangan makna relegius, yang dibesar-besarkan. Karena pada akhirnya, Idul Fitri hanyalah kejadian biasa yang tidak memiliki implikasi teologis-metafisis yang sangat hebat sebagaimana digemborkan oleh para penceramah di masjid.