• Beranda
  • Profile
  • Buku Tamu
  • Galeri Foto
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo

Main Menu

  • Home
  • Curriculum Vitae
  • Artikel
  • Agenda
  • Materi Kuliah
  • Pengumuman/Informasi
  • Karya Ilmiah
  • Galeri Foto
  • Buku Tamu

Latest Articles

  • Sejarah Penelitian Kualitatif (Bagian 2 habis)
  • SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak
  • Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat
  • Aksi Seribu Sandal sebagai Perlawanan Simbolik dan Fenomena Nenek Djubaidah
  • Perkembangan Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika

Facebook

Chat

globetrackr

free counters

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1153
mod_vvisit_counterYesterday1167
mod_vvisit_counterThis week1153
mod_vvisit_counterThis month6633
mod_vvisit_counterAll432858

Latest Commented On

DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (82 comments)
Sejarah Penelitian Kualitatif (Bagian 2 habis) (9 comments)
Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (76 comments)
Antara Rumusan Masalah dan Fokus Penelitian; (Bahan Kuliah Metpen, S1, S2, dan S3) (5 comments)
Bersimpuh Dzikir Mengagungkan Asma Allah Bersama Al Khidmah (5 comments)
Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif (41 comments)
Bahasa Indonesia: Mungkinkah Menjadi Bahasa Internasional? (9 comments)
Nasihat Imam Ghazali (1 comments)
Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat (2 comments)
Ternyata Kejujuran adalah Pangkal Keberhasilan (7 comments)

Latest News

Pengumuman MABA 2011

28.07.2011 |
... Read more...
Dear Colleagues and Students,

12.02.2010 |
... Read more...
Joomla! Україна

Polls

Menurut anda artikel apa yang harus diperbanyak
 

Popular

  • Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif
  • DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF
  • PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2]
  • Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman Empirik)
  • PENELITIAN SOSIOLOGIS HUKUM ISLAM
Anatomi Bahasa Tubuh PDF Print E-mail
Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si   
Saturday, 14 August 2010 07:20

Tulisan pendek ini masih terkait dengan tulisan sebelumnya tentang kiat berbicara di depan publik. Sebagaimana diuraikan sebelumnya kiat sukses berbicara di depan publik melibatkan banyak unsur, mulai jenis pilihan kata, penekanan kata, intonasi kalimat, penguasaan tema ceramah sampai gerakan anggota badan. Semuanya memberikan kesan audiens terhadap pembicara atas penguasaan panggung, apakah pembicara itu orang yang mengusai materi yang disampaikan atau tidak, atau apakah pembicara orang yang demam panggung atau tidak. Tulisan ini menghadirkan sisi lain dari kiat bicara di depan publik, yakni mengenai bahasa tubuh (body language).

 

Semua orang mengetahui bahwa alat komunikasi tidak saja kata dan kalimat, melainkan juga gerakan fisik anggota badan seseorang yang lazim dikenal sebagai bahasa tubuh atau body language. Sebagaimana dari bahasa (lisan dan tulis) dapat diketahui siapa dan dari mana latar sosial pembicaranya, dari bahasa tubuh juga bisa diketahui sosok orangnya. Bahkan dapat pula diketahui fungsi bahasa tubuh itu sendiri, apakah sekadar untuk menutupi rasa kurang percaya dirinya atau mengalihkan isi pembicaraan yang tidak begitu dikuasai.

 

Para ahli komunikasi sepakat bahwa gerakan anggota tubuh tidak saja menyiratkan apa yang sedang dipikirkan oleh pembicara, tetapi juga dapat membantu pemahaman audiens mengenai isi pembicaraan asal disampaikan dengan tepat dan benar. Misalnya, karena ingin menekankan pentingya informasi tertentu, pembicara mengucapkan kata yang mengandung informasi itu dengan penekanan (stress) yang berbeda dengan kata-kata yang lain ditambah kepalan tangan.

 

Bahasa tubuh tidak saja berupa gerakan tangan, tetapi juga bentuk dan warna pakaian, gerakan mata, ekspresi muka, dan gerakan tubuh, yang kesemuanya menyiratkan makna sendiri-sendiri. Gerakan tangan yang meyakinkan bisa menggambarkan semangat dan antusiasme tema yang dibahas serta sikap terhadap audiens. Tetapi perlu diingat gerakan tangan yang berlebihan justru bisa diartikan sebagai kebiasaan yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai pendono. Ada orang yang kalau berbicara selalu diikuti dengan gerakan tangan, sehingga bisa mengurangi efektivitas pembicaraan. Audiens bisa terganggu dengan gerakan tangan yang berlebihan. Karena itu, agar efektif gerakan tangan dilakukan pada saat yang tepat.

 

Selain gerakan tangan, pakaian yang dikenakan seseorang  juga merupakan bahasa tubuh yang syarat makna. Ketika seseorang pertama kali tampil di depan orang yang belum dikenal, maka pakaian merupakan bahasa yang pertama kali dikenali. Dari pakaian akan diketahui siapa pemakainya, dari mana ia berasal dan dari golongan apa. Lebih dari itu, pakaian juga menggambarkan apakah seseorang berasal dari kelompok yang sama dengan audiens, yang dalam istilah manajemen diri (self-management) disebut sebagai tribal recoginition. Seorang yang dianggap berasal dari kelompok yang sama akan lebih mudah diterima. Perhatikan orang yang dianugerahi gelar kehormatan biasanya berpakaian sama dengan masyarakat yang memberi gelar tersebut. Dengan dianggap sebagai bagian dari kelompoknya, pesan atau informasi yang disampaikan pembicara yang akan lebih mudah diterima. Perlu diingat jangan sampai berpakaian glamor yang menimbulkan kesan mewah di depan publik, tetapi juga jangan berpakaian ala kadarnya sehingga mengesankan tidak menghormati audiens. Perhatikan bahwa dengan berdiri di depan banyak orang semua bagian yang ada pada tubuh kita diperhatikan audiens. Karena itu, menjaga kita kenakan menjadi sangat penting.

 

Bagian lain yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah gerakan tubuh, misalnya kepala yang menunduk atau mendongak. Kepala yang selalu menunduk bisa dimaknai sebagai sikap kurang percaya diri, sebaliknya kepala yang mendongak bisa dianggap sikap sombong dan merendahkan audiens. Baik sikap kurang percaya diri maupun  sombong merupakan sikap tidak positif dan tidak perlu dilakukan. Karena itu, kesan percaya diri bisa ditunjukkan dengan cara menatap ke depan dengan kepala tegak yang wajar. Sikap ini sangat penting dimiliki oleh pembicara publik. Sebab, sebagaimana diuraikan pada tulisan terdahulu, pada dasarnya orang hanya mau mendengarkan pembicaraan yang disampaikan oleh orang yang memiliki pengetahuan atau informasi yang cukup memadai yang ditunjukkan dengan sikap percaya diri.

 

Gerakan mata merupakan bahasa tubuh yang sangat penting. Gerakan mata dengan melakukan kontak mata dengan audiens dapat melahirkan suasana komunikasi yang interaktif dan bisa mengurangi rasa gugup. Kemampuan membangun gerakan mata merupakan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang pembicara. Sebab sering ditemukan ada pembicara yang tidak  menatap mata audiens, sehingga dianggap kurang percaya diri dan menimbulkan kebosanan. Sebagai bagian dari komunikasi, audiens harus disapa jika diinginkan hasil yang efektif. Menyapa audiens tidak harus dengan menyebut nama satu per satu, melainkan dengan tatapan mata.

 

Perlu diketahui bahwa mata merupakan bagian tubuh yang paling sulit berbohong. Dari mata orang yang kita bicara terlihat jelas apakah dia menikmati pembicaraan atau hanya pura-pura. Karena itu, bagi seorang pembicara memperhatikan gerakan mata audiens sangat penting. Perhatikan jika mata pasangan bicara kita melihat ke sana ke mari pada saat diajak bicara itu tandanya dia tidak tertarik dengan pembicaraan atau kehadirannya hanya basa-basi. Pendengar yang serius akan mengarahkan matanya ke pembicara dengan penuh perhatian.

 

Menyampaikan infrormasi kepada orang lain dan apalagi meyakinkannya bukan pekerjaan sederhana. Komunikasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan banyak pihak, baik dari sisi pembicara itu sendiri maupun dari audiens dan kesemuanya menyatu dalam sebuah peristiwa dengan tujuan yang bisa jadi tidak sama walaupun keduanya saling membutuhkan. Saya yakin masih banyak bahasa tubuh yang bisa diuraikan lebih jauh. Tetapi yang tertuang dalam tulisan ini setidaknya cukup menjadi bahan renungan bagi siapa pun yang ingin berhasil dalam membangun komunikasi melalui bahasa tubuh.

 

_________

Malang, 14 Agustus 2010

  • Add New
  • Search
Comments (2)
  • |2010-08-30 06:42:58 Halili  - get dress means s`thing..
    avatar
    "Dressing is a way of life. It brings us joy. It can give you freedom and liberation, help you to find yourself and to move without restrain. It isn`t elegance forgetting what one is wearing." -Yves Saint Laurent-
    Reply
  • |2010-09-15 03:00:03 sugeng sukololo  - Anatomy of body language
    avatar
    Mudjia,
    I'm sure you are now an expert of pubic speaking. Being a teacher is a good asset, though there is room to improve to get rid of the "public speaking Phobia". Public speaking is not easy and it tops the list of phobias for most people. It will do all kinds of unpleasant things to you when you have to stand up and face a sea of faces with the hope of getting your message across in a compelling and interesting way or just think of getting off the stage as quickly as possible.
    The fact that spotlight is you, is enough to trigger every fear, anxiety and phobia. The best thing, make your audience your friends, accentuate the positives by maintaining eye contact with as many people as possible, telling jokes, be provocative, be challenging, change the pace your delivery and change the volume of your voice. Self deprecating humor works too.
    Reply
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

 
 

www.mudjiarahardjo.com 2009