• Beranda
  • Profile
  • Buku Tamu
  • Galeri Foto
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo

Main Menu

  • Home
  • Curriculum Vitae
  • Artikel
  • Agenda
  • Materi Kuliah
  • Pengumuman/Informasi
  • Karya Ilmiah
  • Galeri Foto
  • Buku Tamu

Latest Articles

  • Pelajaran di Balik Tragedi Jatuhnya Sukhoi
  • Ujian Nasional 2012: Antara Idealisme dan Pragmatisme
  • Agenda
  • Analisis Wacana Pilkada Aceh
  • PENELITIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM: (Sebuah Pencarian Metodologik)

Facebook

Chat

globetrackr

free counters

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday101
mod_vvisit_counterYesterday883
mod_vvisit_counterThis week7229
mod_vvisit_counterThis month20281
mod_vvisit_counterAll535275

Latest Commented On

Ujian Nasional 2012: Antara Idealisme dan Pragmatisme (2 comments)
Bohong: Mengurai Kebohongan Angelina Sondakh (6 comments)
SEGERA EVALUASI SBI DAN RSBI (16 comments)
ISLAM IN THE PAST TEN YEARS IN INDONESIA AND IN THE WORLD [1] (8 comments)
Anatomi Metodologi Penelitian (15 comments)
Perkembangan Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika (8 comments)
PENELITIAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM: (Sebuah Pencarian Metodologik) (4 comments)
Profesi dan Profesionalisasi Keguruan (10 comments)
DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (96 comments)
Ojo Dumeh (5 comments)

Latest News

Pengumuman

19.03.2012 |
... Read more...
Pemberitahuan

21.02.2012 |
... Read more...
Pengumuman MABA 2011

28.07.2011 |
... Read more...
Dear Colleagues and Students,

12.02.2010 |
... Read more...
Joomla! Україна

Polls

Menurut anda artikel apa yang harus diperbanyak
 

Popular

  • Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif
  • DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF
  • PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2]
  • Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman Empirik)
  • Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif
Pak, Bisakah Kedua Metode Penelitain itu Digabung? PDF Print E-mail
Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si   
Thursday, 18 March 2010 00:21

Tidak disangka tulisan saya “Pak, Enaknya Saya Meneliti Apa?” yang dimuat di web ini beberapa waktu lalu memperoleh tanggapan dan pertanyaan cukup banyak. Ada ratusan pembaca, dan dari hari ke hari jumlahnya terus naik, yang tidak saja dari para mahasiswa, tetapi juga para dosen yang mempunyai concern tinggi terhadap penelitian. Ada juga pembaca dari luar negeri seperti India, Malaysia, Iran, Russia, Hongkong, dan Belanda. Tak ketinggalan kolega saya yang sudah lama bermukim di Amerika juga memberikan respons positifnya.

Tentu semua tanggapan itu  saya syukuri karena memang inilah salah satu tujuan saya memiliki web pribadi, yakni untuk membangun wacana akademik lewat dunia maya secara luas, tanpa hambatan sosial dan fisik, sebagaimana saya tulis di halaman depan web ‘Welcome to My Web’. Di antara pertanyaan penting dari para pembaca sebagai bahan diskusi lebih lanjut ialah “Pak, Bisakah Kedua Metode Penelitian itu Digabung, ?”, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. “Jika digabung kan semakin sempurna”, begitu rata-rata komentar dari para pembaca. Saya merasa perlu melanjutkan diskusi dengan tema ini --- walau singkat --- karena ada hal-hal prinsip yang perlu dketahui oleh khalayak pembaca. Selain itu, tampaknya ada ghiroh yang tinggi untuk mendalami ilmu penelitian.

Ini fenomena sangat baik untuk kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang metodologi penelitian. Perlu disadari bahwa ilmu akan berkembang jika penelitian juga dikembangkan. Sebagai pelopor ilmu pengetahuan, maka penting bagi ilmuwan, termasuk mahasiswa,  memiliki pengetahuan yang cukup di bidang penelitian. Oleh karena itu, jika sebuah universitas ingin maju maka kegiatan penelitian harus menjadi salah satu prioritas pengembangan.  Berikut penjelasan singkatnya.

Tidak ada penelitain yang tidak punya payung paradigma. Artinya, tidak ada penelitian yang tidak berangkat dari pemikiran filsafati, yakni antara cara berpikir positivistik --- yang memandang segala sesuatu serba empirik, deterministik, dan selalu dalam hubungan kausalitas ----,dan  cara berpikir interpretif yang berasumsi bahwa yang tampak hakikatnya hanya merupakan refleksi atau pantulan dari yang tidak tampak. Ini pula sebabnya cara pandang demikian sering juga disebut paradigma fenomenologi.

Jika paradigma positivistik --- sebagai landasan metode kuantitatif --- berurusan dengan hal-hal yang empirik (tampak) untuk dicari hubungan pada masing-masing variabelnya, maka justru sebaliknya paradigma interpretif  --- sebagai landasan metode kualitatif--- berurusan dengan hal-hal yang tidak tampak untuk digali realitas yang sebenarnya. Untuk menjelaskan ini, saya sering menggunakan kalimat “Behind what appears there is something. And, that something is reality”. Karena itu, saya sering membedakan antara fakta (facts) dan realitas (reality). Sebab, belum tentu orang yang faktanya menangis itu susah, dan sebaliknya yang faktanya tertawa itu senang atau bahagia. Karena itu, tugas peneliti untuk membongkar apa di balik ‘tangis’ dan ‘tawa’.

Jika data metode kuantitatif diperoleh lewat kuesioner dari responden --- dan semakin banyak responden semakin memiliki nilai keterwakilan tinggi, maka data metode kualitatif diperoleh lewat wawancara subjek atau informan yang tidak menggunakan ukuran keterwakilan, tetapi kedalaman masalah. Karena itu tidak relevan menanyakan berapa banyak subjek atau  informan yang diperlukan dalam penelitian kualitatif.

Begitu juga tentang posisi teori. Jika pada penelitian kuantitatif  teori untuk dibuktikan atau diverifikasi, --- karena itu biasanya ada hipotesis---, maka pada metode kualitatif teori untuk dipakai sebagai piranti untuk memahami fenomena. Jika ada hipotesis pada penelitian kualitatif, maka hipotesis tersebut tidak untuk dibuktikan tetapi sebagai pintu masuk memahami permasalahan yang diteliti.

Terkait dengan kriteria data juga ada pebedaan mencolok di antara kedua jenis metode penelitian tersebut. Berikut paparannya:

Kuantitatif

Kualitatif

validity

credibility

reliability

dependability

objectivity

conformability

generalability

transferability

 

Jika pada penelitian kuantitatif data harus   memenuhi syarat validity,  reliability, objectivity, dan generalability, maka  pada metode kualitatif data  harus memenuhi syarat  credibility, dependability, conformability dan  transferability. (selengkapnya tentang perbedaan paradigmatik kedua jenis metode  penelitian disajikan pada “Perbedaan Paradigma Positivism dan    Interpretivism” silahkan baca di menu web materi kuliah ) .

Nah, jika landasan paradigmanya saja sudah sedemikian berbeda --- sebagaimana saya paparkan pada tulisan sebelumnya --- , biasanya saya balik bertanya bagaimana cara menggabungkannya. Saya sangat setuju bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan dengan cara penggabungan keduanya akan diperoleh kesempurnaan secara metodologis. Idenya saya setujui seratus persen. But how to implement it is the question.

Sebagai disiplin ilmu, metodologi penelitian juga terus mengalami perkembangan. Para ahli terus saja mencari cara untuk menutupi kekurangan masing-masing metode. Hasilnya diperoleh paradigma metode campuran (mixed method). Secara operasional, metode ini mencoba mengkualitatifkan hasil kuantitatif dan mengkuantitatifkan hasil kualitatif. Misalnya, hasil penelitian kuantitatif  yang berakhir dengan generalisasi atau adanya hubungan antar-variabel yang berupa angka, maka angka itu dicoba dikualitatifkan dengan mengajukan pertanyaan baru. Sebaliknya, penelitian kualitatif yang berakhir dengan kesimpulan berupa narasi atau tesis diteruskan dengan mencoba mencari hubungan antar-variabel dengan mengajukan pertanyaan baru.

Jika demikian halnya, maka metode campuran hakikatnya adalah dua jenis penelitian yang satu dilakukan sebelum atau sesudah yang lain dalam satu proyek kegiatan. Sah kah metode ini? Tentu saja sah. Tetapi peneliti yang akan melakukannya harus bersiap-siap untuk lebih berlama-lama lagi berurusan dengan data, teori, dan model analisis yang tentu akan menggunakan model keduanya. Menurut saya daripada pusing-pusing melakukan metode campuran, mengapa tidak memilih satu metode saja tetapi dengan penguasaan yang sempurna.

Harus disadari bahwa secanggih apapun metode keilmuan yang kita pakai tetap saja memiliki kekurangan. Sekali lagi, ini hanya buah karya manusia, bukan karya Tuhan yang kebenarannya mutlak. Kawan lama saya yang di Amerika berkomentar lewat web saya “…no method, approach, and paradigm are perfect. They will remain insufficient”. Saya sangat setuju dengan pendapat kawan saya itu dan lebih setuju lagi jika kita sadar bahwa kita semua masih punya banyak kekurangan !.

 

  • Add New
  • Search
Comments (10)
  • |2010-03-18 23:02:07 halimi  - Menambah Ilmu
    avatar
    Terima kasih Prof, ini sungguh menambah pengetahuan saya tentang penelitian, mudah-mudahan dengan tulisan prof, semakin mahasiswa atau dosen semakin senang meneliti dan berinofasi dalam dunia akademik
    Reply
  • |2010-03-20 19:34:22 sugeng  - mixed paradigm is not highly recommended
    avatar
    Paradigms are designed to investigate subject matters or disciplines accurately, so you can produce valid results. Of course, there is nothing impossible in this world. You can mix those methodological approaches, but can you guarantee the validity and credibility? The posivitist prespective has been associated with scientsm that views the method of natural sciences. And may apply to all areas of investigations, while the interpretive paradigm is more suitable for social sciences. The positivism has fallen out of favor for investigating social sciences' researches
    Reply
  • |2010-03-22 03:28:52 nuril laili rahmawati  - buAguzzzz
    avatar
    pRof, thank you
    ini sangat berguna buat jalannya skripsi saya.
    thank you tank you
    Reply
  • |2010-03-22 05:29:16 lilik nur kholishoh
    avatar
    Saya sangat setuju dengan pendapat Prof Mudji.Satu metode saja sudah sulit,apalagi dengan menggabungkan dua metode.masih perlu bimbingan dari Prof Mudji.terima kasih.Semoga karya-karya Prof yang baru dan sangat membantu kami segera dipublikasikan lagi.terima kasih
    Reply
  • |2010-03-23 02:26:45 ni'mah sholihah  - emm......
    avatar
    :D prof.... I still don't really understand about research method, but i want to ask....
    sebenernya metode mana ci yang paling bagus untuk melakukan penelitian....???
    many thanks.... :D
    Reply
  • |2010-03-27 01:11:48 Taufiq  - Sebuah Pencerahan
    avatar
    Tulisan Prof. ini sangat mencerahkan, sekaligus menjadi "dalil penegasan" bahwa kuantitatif dan kualitatif memang berbeda, atau bahkan tidak mungkin berjalan seiring bersamaan seperti beberapa wacana yang belakangan muncul untuk mencoba menawarkan gabungan keduanya dan hal itu amat mengusik dan membingungkan para peneliti.
    Memahami lebih dalam (understanding) terhadap hasil riset kuantitatif, atau sebaliknya, menjelaskan dan mengukur (explain) hasil riset kualitatif yang disajikan Prof Mudji -kalau saya tidak salah- merupakan titik temu yang bijak antara kedua madzhab penelitian tersebut, terutama terkait "integrasi" yang telah lama dibangun UIN Malang, walaupun untuk itu perlu kerja keras dan waktu lama. Terima Kasih atas tulisan ini.
    Reply
  • |2010-05-12 13:26:07 Lilik Permata Sari
    avatar
    prof. sy msh bingung dg metode penggabungan antara kuantitatif n kualitatif, krn sy mengalami hal tsb. apa g kerja dua kali tu? terima kasih.
    Reply
  • |2011-05-21 04:08:40 ahmad  - trimakasih
    avatar
    Trimakasih pak sudah berbagi ilmunya....sangat bermanfaat sekali..
    Reply
  • |2011-09-25 01:41:50 Septi Nugrohoningsih  - terima kasih ,prof
    avatar
    :D
    terimakasih prof,,tulisan ini sangat membantu skripsi saya,,,saya masih bingung dengan cara analisis data nya,,karena saya menggunakan penganmbilan data skunder berupa nilai raport dan melakukan wawancara juga untuk mencari faktor2 yg mempengaruhi prestasi belajar.
    Reply
  • |2011-09-25 01:43:17 arni febriani  - makasih prof
    avatar
    makasih prof...tulisannya sangat membantu dalam penyelesaian tugas kuliah saya
    makasih prof :D
    Reply
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Monday, 29 March 2010 03:18
 
 

www.mudjiarahardjo.com 2009