• Beranda
  • Profile
  • Buku Tamu
  • Galeri Foto
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo
  • Prof Mudijia Rahardjo

Main Menu

  • Home
  • Curriculum Vitae
  • Artikel
  • Agenda
  • Materi Kuliah
  • Pengumuman/Informasi
  • Karya Ilmiah
  • Galeri Foto
  • Buku Tamu

Latest Articles

  • Sejarah Penelitian Kualitatif (Bagian 2 habis)
  • SEJARAH PENELITIAN KUALITATIF: Penelitian Etnografi sebagai Titik Tolak
  • Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat
  • Aksi Seribu Sandal sebagai Perlawanan Simbolik dan Fenomena Nenek Djubaidah
  • Perkembangan Metodologi Penelitian: Dari Positivistik, Post-Positivistik (Interpretif), hingga Hermeneutika

Facebook

Chat

globetrackr

free counters

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1157
mod_vvisit_counterYesterday1167
mod_vvisit_counterThis week1157
mod_vvisit_counterThis month6637
mod_vvisit_counterAll432862

Latest Commented On

DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF (82 comments)
Sejarah Penelitian Kualitatif (Bagian 2 habis) (9 comments)
Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif (76 comments)
Antara Rumusan Masalah dan Fokus Penelitian; (Bahan Kuliah Metpen, S1, S2, dan S3) (5 comments)
Bersimpuh Dzikir Mengagungkan Asma Allah Bersama Al Khidmah (5 comments)
Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif (41 comments)
Bahasa Indonesia: Mungkinkah Menjadi Bahasa Internasional? (9 comments)
Nasihat Imam Ghazali (1 comments)
Jam’iyyah Thariqah di Tengah Perubahan Masyarakat (2 comments)
Ternyata Kejujuran adalah Pangkal Keberhasilan (7 comments)

Latest News

Pengumuman MABA 2011

28.07.2011 |
... Read more...
Dear Colleagues and Students,

12.02.2010 |
... Read more...
Joomla! Україна

Polls

Menurut anda artikel apa yang harus diperbanyak
 

Popular

  • Jenis dan Metode Penelitian Kualitatif
  • DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF
  • PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2]
  • Analisis Data Penelitian Kualitatif (Sebuah Pengalaman Empirik)
  • PENELITIAN SOSIOLOGIS HUKUM ISLAM
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU [2] PDF Print E-mail
Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si   
Tuesday, 02 March 2010 01:47

Profesi dan Profesionalisasi Keguruan

(tulisan ini adalah kelanjutan dari artikel yang berjudul ”Pengembangan Profesionalisme Guru” atau dapat anda lihat di link ini: www.mudjiarahardjo.com)

Guru sebagai profesi perlu diiringi dengan pemberlakuan aturan profesi keguruan, sehingga akan ada keseimbangan antara hak dan kewajiban bagi seseorang yang berprofesi guru, antara lain: Indonesia memerlukan guru yang bukan hanya disebut guru, melainkan guru yang profesional terhadap profesinya sebagai guru. Aturan profesi keguruan berasal dari dua kata dasar profesi dan bidang spesifik guru/keguruan.

Secara logik, setiap usaha pengembangan profesi (professionalization) harus bertolak dari konstruk profesi, untuk kemudian bergerak ke arah substansi spesifik bidangnya. Diletakkan dalam konteks pengembangan profesionalisme keguruan, maka setiap pembahasan konstruk profesi harus diikuti dengan penemukenalan muatan spesifik bidang keguruan. Lebih khusus lagi, penemukenalan muatan didasarkan pada khalayak sasaran profesi tersebut. Karena itu, pengembangan profesionalisme guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah akan menyentuh persoalan: (1) sosok profesional secara umum, (2) sosok profesional guru secara umum, dan (3) sosok profesional guru sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah.

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[1] Bagaimana dengan pekerjaan keguruan?

Tak diragukan, guru merupakan pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu. Secara teoretik, ini sejalan dengan syarat pertama profesi menurut Ritzer (1972), yakni pengetahuan teoretik (theoretical knowledge). Guru memang bukan sekedar pekerjaan atau mata pencaharian yang membutuhkan ketrampilan teknis, tetapi juga pengetahuan teoretik.[2] Sekedar contoh, siapa pun bisa trampil melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK), tetapi hanya seorang dokter yang bisa mengakui dan diakui memiliki pemahaman teoretik tentang kesehatan dan penyakit manusia.

Pun demikian dengan pekerjaan keguruan. Siapa saja bisa trampil mengajar orang lain, tetapi hanya mereka yang berbekal pendidikan profesional keguruan yang bisa menegaskan dirinya memiliki pemahaman teoretik bidang keahlian kependidikan. Kualifikasi pendidikan ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan formal bidang dan jenjang tertentu.[3]

Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi pedagogik menunjuk pada kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi kepribadian menunjuk pada kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi profesional menunjuk pada kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial menunjuk kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.[4]

Tampaknya, Kendati syarat kualifikasi pendidikan terpenuhi, tak berarti dengan sendirinya seseorang bisa bekerja profesional, sebab juga harus ada cukup bukti bahwa dia memiliki keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu. Karena itu, belakangan ditetapkan bahwa sertifikasi pendidik merupakan pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.

Syarat kedua profesi adalah pemberlakuan pelatihan dan praktik yang diatur secara mandiri (self-regulated training and practice). Kalau kebanyakan orang bekerja di bawah pengawasan ketat atasan, tak demikian dengan profesi. Pekerjaan profesional menikmati derajat otonomi tinggi, yang bahkan cenderung bekerja secara mandiri. Sejumlah pelatihan profesional masih diperlukan dan diselenggarakan oleh asosiasi profesi. Gelar formal dan berbagai bentuk sertifikasi dipersyaratkan untuk berpraktik profesional. Bahkan, pada sejumlah profesi yang cukup mapan, lobi-lobi politik asosiasi profesi ini bisa memberikan saksi hukum terhadap mereka yang melakukan praktik tanpa sertifikasi terkait.

Bila tolak-ukur ini dikenakan pada pekerjaan keguruan, jelas kemantapan guru sebagai profesi belum sampai tahapan ini. Banyak guru masih bekerja dalam pengawasan ketat para atasan serta tidak memiliki derajat otonomi dan kemandirian sebagaimana layaknya profesi. Pun nyaris tanpa sanksi bagi siapa saja yang berpraktik keguruan meskipun tanpa sertifikasi kependidikan. Sistem konvensional teramat jelas tidak mendukung pemantapan profesi keguruan. Keputusan penilaian seorang guru bidang studi, misalnya, sama sekali tidak bersifat final karena untuk menentukan kelulusan, atau kenaikan kelas, masih ada rapat dewan guru. Tak jarang, dalam rapat demikian, seorang guru bidang studi harus “mengubah” nilai yang telah ditetapkan agar sesuai dengan keputusan rapat dewan guru.

Dalam konteks otoritas profesional tersebut, tampak berbeda antara otonomi profesi dosen dengan otonomi profesi guru. Dengan sistem kredit semester, seorang dosen bisa membuat keputusan profesional secara mandiri dan bertanggung-jawab. Keputusan seorang dosen profesional memiliki bobot mengikat sebagaimana keputusan seorang dokter untuk memberikan atau tidak memberikan obat tertentu. Tak sesiapa pun, termasuk Ketua Jurusan, Dekan, dan bahkan Rektor, yang bisa melakukan intervensi langsung terhadap penilaian yang telah dilakukan oleh seorang dosen terhadap mahasiswanya. Tentu saja, di balik otoritas demikian, juga dituntut adanya tanggung-jawab dan keberanian moral seorang tenaga profesional.

Guru bukan pedagang. Itu jelas, karena seorang pedagang yang baik hanya punya satu dorongan, yaitu memuaskan pelanggan agar mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Prinsip pembeli adalah raja, tidak berlaku dalam pekerjaan profesional keguruan. Ini terkait dengan syarat profesi ketiga, yaitu: kewenangan atas klien (authority over clients).

Karena memiliki pendidikan formal dan nonformal ekstensif, para profesional mengakui dan diakui memilik pengetahuan yang tak sesiapa pun di luar profesi yang bersangkutan dapat memahami secara penuh pengetahuan tersebut. Karena pengakuan demikian, maka seorang profesional melakukan sendiri proses asesmen kebutuhan, diagnosis masalah, hingga pengambilan tindakan yang diperlukan beserta tanggung-jawab moral dan hukumnya. Seperti seorang dokter yang tidak bisa didikte oleh seorang pasien untuk memberikan jenis perlakuan dan obat apa, demikian pula tak seorang peserta didik atau bahkan orangtua mereka yang berhak mendikte materi, metode dan penilaian seorang guru.

Guru profesional tidak boleh terombang-ambing oleh selera masyarakat, karena tugas guru membantu dan membuat peserta didik belajar. Perlu diingat, seorang guru atau dosen memang tidak diharamkan untuk menyenangkan peserta didik dan mungkin orangtua mereka. Namun demikian, tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah membantu peserta didik belajar (to help the others learn), yang bahkan terlepas dari persoalan apakah mereka suka atau tidak suka.

Syarat terakhir, pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation). Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi. Walaupun secara praktik boleh saja menikmati penghasilan tinggi, bobot cinta altruistik profesi memungkinkan diperolehnya pula prestise sosial tinggi.

Adapun karakteristik profesional minimum guru, berdasarkan sintesis temuan-temuan penelitian, telah dikenal karakteristik profesional minimum seorang guru, yaitu: (1) mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) menguasai secara mendalam bahan belajar atau mata pelajaran serta cara pembelajarannya, (3) bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi, (4) mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, dan (5) menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.[5]

Secara substantif, sejumlah karakteristik tersebut sudah terakomodasi dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Beberapa di antaranya adalah: (1) menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, (2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, (3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu, (4) menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik, (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik, dan (6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

Mencermati sejumlah materi sajian dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan guru dalam jabatan ini, tampak jelas bahwa penekanan yang diberikan pada aspek kompetensi, sedangkan aspek-aspek lain dari penguatan profesi belum cukup tampak dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan ini. Karena itu, saya berharap agar sejumlah aspek yang masih tercecer bisa diagendakan di luar kurikulum tertulis (written curriculum), agar sosok profesional guru madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar yang dihasilkan merupakan sosok profesional yang utuh.

Akhirnya, memang masih cukup panjang dan berliku jalan untuk menegakkan profesi keguruan. Selain keharusan untuk menuntaskan persyaratan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi, masih ada tantangan yang lebih berdimensi legal dan moral. Namun demikian, satu atau dua langkah sudah berhasil dilakukan. Kalau dari perspektif kemauan politik sudah pengakuan terhadap profesi guru dan dosen sudah diundangkan, maka dari perspektif guru sendiri juga harus ada usaha untuk senantiasa memantapkan profesinya.

Kalau transformasi organisasi profesi berhasil dilakukan, maka letak kendali (locus of control) profesi keguruan, seperti kewenangan sertifikasi, evaluasi dan pemberian sanksi, juga bergeser dari ranah politik pemerintah ke ranah profesi keguruan. Karena pergeseran letak kendali dari pemerintah ke organisasi profesi menyangkut kewenangan dan sumberdaya untuk sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi, maka persoalan menjadi sangat berdimensi politik serta sarat dengan konflik kepentingan.

Dari perspektif struktur kekuasaan, mungkinkah para pejabat birokrasi pendidikan yang masih berkecenderungan senantiasa memperluas bidang kekuasaan, merelakan terjadinya redefinisi kekuasaan menjadi lebih terbatas? Atau, bisakah watak birokrasi pendidikan kita yang senantiasa ingin memusatkan kekuasaan pada sekelompok kecil orang, diubah agar terjadi redistribusi kekuasaan kepada masyarakat sipil seperti organisasi profesi keguruan?

Dari perspektif kultur masyarakat, bisakah kita mengubah mentalitas masyarakat berorientasi serba-negara (state-oriented society) ini menjadi masyarakat yang berorientasi pada jasa nyata dan prestasi (merit and achievement-oriented society)? Beranikah para guru mengambil-alih kembali (reclaiming) sebagian kewenangan yang sudah cukup lama kita serahkan kepada negara dan atau pemerintah?

Bila jawaban positif kita berikan, maka sudah saatnya kita menyiapkan kata perpisahan kepada sertifikasi, akreditasi, dan evaluasi oleh pemerintah. Sudah saatnya organisasi profesi keguruan melakukan sertifikasi profesi keguruan. Sudah saatnya akreditasi sekolah dan perguruan tinggi dilakukan oleh lembaga independen. Sudah saatnya pula pelaksanaan dan keputusan hasil evaluasi peserta didik dilakukan oleh para pendidik profesional. Sekian.

 

 


[1] Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

[2] Sakban Rosidi, Sistem Kredit dan Profesionalisasi Keguruan, Surya, 13 Maret 2007.

[3] Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

[4] Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

[5] Supriadi, D. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.

  • Add New
  • Search
Comments (49)
  • |2010-03-03 01:05:03 Milda  - Rasulullah= Tauladan terbaik
    avatar
    Assalamualaikum wr wb,
    Guru adalah sesosok pendidik yang mampu membentuk kepribadian anak didik untuk menjadi generasi cerdas, kreatif dan inovatif harapan sebuah negara. Tapi, melihat realita dewasa ini patut dijadikan pelajaran bahwasanya para pendidik kita sudah semestinya bercermin kepada pengajaran yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. Beliau adalah pendidik yang luar biasa subhanallah yang harus kita jadikan tauladan dalam meningkatkan profesionalisme seorang guru. :D
    Reply
  • |2010-03-21 13:53:36 Herman  - Mohon izin ngopy artikelnya
    avatar
    :D Assalamu'alaikum wr wb. Mohon izin pak mau ngopy artikel ini. Wassalamu'alaikum wr wb
    Reply
  • |2010-03-21 13:56:38 Herman  - Mohon izin ngopy artikelnya
    avatar
    :D Assalamu'alaikum wr wb. Mohon izin ya pak, boleh saya ngopy artikel ini untuk menambah wawasan saya mengenai kriteria seorang guru. Karena saya saat ini sedang kuliah ngmabil jurusan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Tanjung Redeb Berau, Kaltim. Wassalamu'alaikum wr wb.
    Reply
  • |2010-04-08 02:02:56 Mudji  - ok
    avatar
    Mas Herman,

    Ok silakan kopi mkalah saya . memang ini untuk yukr pengetahuan dn pengalaman .

    Ok selamat belajar
    Wassalam

    Mudji
    Reply
  • |2010-04-02 17:04:35 MUHAMMAD MUKSIN  - MAHASISWA
    avatar
    :?: AKU INGIN BANGET MENJADI GURU YANG PERFESIONAL TAPI DARI SEGI ILMU AKU TIDAK TERLALU MENGUASAINYA.YA TUHANKU......!!!!
    Reply
  • |2010-04-06 04:18:34 Anonymous
    avatar
    YO BELAJAR BOZ...JANGAN TIDUR TOK WAE...
    Reply
  • |2010-04-08 04:24:55 nurhelmi nedia putri  - ayo.......belajar
    avatar
    tolong carian aku artikel tentang pr
    Reply
  • |2010-05-16 05:40:11 Sarmuji  - Mohon ijin untuk mengopy
    avatar
    Assalamu'alaikum wr wb. Mohon izin Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si . Untuk mengopy artikel ini sebagai wawasan pengembangan profesional guru, semoga apa yang telah Bapak Prof. Tulis sebagai amal ibadah semoga diberi umur yang berkah. Wassalamu'alaikum wr wb
    Sarmuji bin Sahri
    Guru Al-Qur'an Al-Hadits
    MA Al-Zaytun
    Indramayu Jawa Barat
    Reply
  • |2010-06-05 01:54:33 angga-KP  - Mohon izin publikasi tulisan
    avatar
    Ass.
    Prof. Mudjia, tulisan Prof. mengenai pengembangan profesi guru dan kebijakan pendidikan sangat dibutuhkan oleh pembaca kami yang sebagian besar guru dan kepala sekolah/madrasah. Sebab, disamping tulisan tersebut dituturkan dengan tajam dan analitik, juga isi dari pembahasan, kaya akan nilai-nilai inspiratif dan edukatif. Oleh sebab itu, kami meminta izin untuk mempublikasikannya secara berkala di KORAN PENDIDIKAN.

    Terima Kasih, Wassalam wr.wb

    Redaktur Wacana KORAN PENDIDIKAN
    Angga Teguh Prastyo
    Reply
  • |2010-06-11 06:18:26 zhedwal mardizal
    avatar
    susa gak jadi guru yg propesinal
    Reply
  • |2010-06-13 12:18:38 Khotimatus Sholikhah  - thanks
    avatar
    assalamualaikum, pak sebelumnya mau ucapkan terimakasih ydah diperkenankan untuk meng copy semoga bisa jadi tambahan untuk tugas-tugas saya ke depan.
    dan semoga saya bisa jadi seorang pendidik yang profesionalisme. amin
    Reply
  • |2010-08-08 18:35:47 sugeng sukolono  - teaching profession
    avatar
    mudjia, it's a great article! Teaching is an honorable profession. But, do anybody can teach? the answer is 'no', as you have said that when, one is a professional, he or she could be an athlete, a taxi driver, janitor or, in this context, is a teacher, all these individuals know their stuff, like and want to do what they like to do best and get paid for it like we always hear about professional athletes. My question is how do you fire bad and incompetent teachers? In the States, teachers, my wife is one of them, has to re earn her certification every other year, if i remember it correctly, otherwise you can't go back to your classroom, period. As what has happened to professional athletes, either traded or let go. let me put out this example, there are so many English native speakers teaching in Indonesian colleges, regardless of their qualification, that's really injustice to Indonesian students. These individuals could have been taken from the streets of Washington D.C. who have no teaching skills, the only skill is the language they were
    born into, and that's English. Teaching is more than just transferring knowledge such as: percept, doctrine, instruction, body of knowledge and ideas and insights but developing boys and girls to be productive members of a society, a whole generation of youngsters and mature, analytic and men and women of brilliant minds. Mudjia, i better quit here, i don't want to sit here too long, let me get fresh air outside.
    Reply
  • |2010-08-19 23:13:21 Revolson A Mege
    avatar
    Assalamu'alaikum wr wb. Dengan penuh kerendahan hati dan rasa hormat, saya mohon izin Bapak Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si untuk mengcopy artikel ini dalam memperkaya wawasan tentang profesionalisme guru. Terima kasih sebelumnya
    Reply
  • |2010-08-31 15:15:31 tamy  - izin copy
    avatar
    Assalamua'laikum...Wr...Wb...
    prof terimakasih banyak atas artikel-artikel nya yang sangat bermanfaat. saya mohon izin untuk mengcopy untuk menambah wawasan..semoga ilmu prof menjadi berkah.amin...(sincerity your student)
    Reply
  • |2010-10-17 04:16:59 azzis
    avatar
    :assalamu'alaikum.....
    pak saya mohon izin untuk mengcopy artikel bapak!!!??
    Reply
  • |2010-10-19 06:55:21 ACHMAD MUHLIS  - Ijin copy artikel
    avatar
    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Pak. Prof. saya mohon ijin mengcopy artikelnya untuk saya berikan sama mahasiswa saya di STAIN Pamekasan...

    Wassalam
    Al-Fakir

    ACHMAD MUHLIS
    ALUMNI PASCASARJANA UIN MALANG
    Reply
  • |2010-10-26 00:50:07 heni  - thank's
    avatar
    terima kasih, saya sudah berhasil mendownload tulisan ini. apabila ada yang baru tolong beritahu aku ya......
    Reply
  • |2010-11-06 05:29:14 m.subeki  - pengertian pelanggan dan karateristik dalam islam
    avatar
    mohon penjelasan profesor..secara epistomologi dan ontologi
    Reply
  • |2010-11-16 14:09:15 M Soffan Tt,  - reverensi
    avatar
    Assalamu"alaikum wrwb Prof,terimakaih banyak saya ambil artikelnya sebagai panduaan saya untuk lebih berkarya menyongsong masa depan bangsa.
    Wassalamu'alaikum Wrwb
    Reply
  • |2010-12-11 13:24:29 febri
    avatar
    maap pak minta ijin buat copy file ini.
    Reply
  • |2011-02-17 01:39:04 alea  - minta izin wat ngopy ya om...
    avatar
    :idea:
    kbetulan q kulia di fak.pendidikan
    q pengen tahu aja lebih banyak tentan guru
    siapa tahu q bisa jadi guru yang profesional
    Reply
  • |2011-02-20 14:33:26 lukman  - referensi
    avatar
    maaf saya minta izin mau copy file ini karena saya butuh buat tambahan bahan tugas saya
    Reply
  • |2011-04-04 05:44:20 alam  - C. S.Pd.
    avatar
    :D :D :D
    pak boleh aq minta jurnal tentang profesionalisme guru, soalx aq mau buat skripsi terkait hal tsb. makasih,,, :D :D :D :D
    Reply
  • |2011-04-15 18:01:02 hendra kalteng  - sertifikasikah solusinya saat ini?
    avatar
    setuju pak Sukolono. Menurut hemat saya penyebabnya:
    1.sulit menghargai kelebihan orang: nilai tinggi dan kriteria formalitas lebih dihargai daripada kemampuan. KALO MAU NAIK ya HARUS URUS2 DULU. gak heran kadisdiknas insinyur kehutanan asal pinter ngurus.
    2.ABS, kata2 atasan adalah dewa, walau dewanya lagi mabuk. Anak sd disuruh mikiiir mulu bukannya diasah keterampilan debat sehat, bercerita, mengakui, menghargai,...
    Walhasil kalo diwawancarai paling jawab ya tidak sambil nyengir, beda ama anak bule yang cas cis cus.
    3.Selalu mau instant. Dengan s1 dan sertifikasi seolah the only best way to solve indo edu problems. Lha guru gak ada nilai prestisenya, economically nor socially. Pentium 1 dibuat ngedit video mintanya win7 lagi. Akhirnya nilai sertifikasinya NILAI KASIHan aja.
    4.nah ini yang gak bisa kaya isteri pak Lono di amrik sert kayak di renew, orang benchmarknya udah gak tega ama kompinya yang memang gak bisa diupgrade lagi, udah mentok over-clocknya.

    Tapi terima kasih pada pak Prof yang udah menuliskan mimpi GURU PROFE IND 2050. ha ha, itupun kalo dana un diganti untuk PBM.
    Reply
  • |2011-04-15 22:54:30 NURUL HUDA  - izin
    avatar
    Assalamualaikum maaf pak mengganggu saya mohon ijin untuk mengkopy makalah yang telah bapak buat semoga bermanpaat untuk kami semua terutama semoga menjadi amal ibadah untuk bapak, amiin wassalam
    Reply
  • |2011-04-21 17:28:41 dian r  - Mohon ijin
    avatar
    BApak, mohon ijin untuk mengkopi sehingga saya dapat mempelajarinya. terimaksih
    Reply
  • |2011-05-28 11:22:31 nerman
    avatar
    saya juga mau minta ijin mau mengkopi makalah bpk Prof.terima kasih pa .
    Reply
  • |2011-06-08 14:47:22 Moh. Isra Labuga
    avatar
    Assalam Alaikum..
    Salam Silaturrahim saya ucapkan kebada bapak dan sahabat-sahabat yg mngomentari artikel ini..
    sebelumx saya mngucapkan terima kasih atas adanya artiket ini membuat para peserta didik lebih mengenal guru yg profesional..
    kepada Bapak saya mau bertanya "Bagaimana cara menerapkan komunikasi Humanis dlm proses KBM?? karena menurut saya seorang guru juga butuh dan komunikasi secara humanistik agar peserta didik senang kpd Guru tersebut.. Mohon Tanggapannya ya Pak..!!
    Reply
  • |2011-06-15 13:38:27 Anonymous
    avatar
    assalamu,alaikum
    pak izin kopi ya..
    Reply
  • |2011-06-17 10:23:49 Gus AA  - Mohon ijin memuat artikel
    avatar
    Asalamu'alaikum Wr.Wb
    Jika Prof berkenan saya dari majalah WAWASAN PAIS mohon ijin untuk memuat artikel yg dimuat. Majalah WAWASAN PAIS merupakan media informasi sekaligus silaturahim para guru khususnya Pendidikan Agama Islam. Majalah ini dibawah naungan Departemen Agama, khususnya Ditpais...
    Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih..
    Hormat Saya
    Gus AA
    Reply
  • |2011-06-18 06:25:49 Mudji  - silakan Gus,
    avatar

    Wa alaikum salam,

    Terima kasih telah membaca tulisan saya. Dengan senang hati untuk dimuat di majalah jika memang bermanfaat. Tetapi perlu diedit. Misalnya, pada paragraf awal yang berbicara mengenai maksud tulisan ini untuk pidato ilmiah di PP Perinduan, Madura dihilangkan saja.

    Terima kasih

    Wassalam,

    Mudji
    Reply
  • |2011-07-22 13:41:13 wibowo  - mohon ijin ngopi artikel prof muji
    avatar

    mohon ijin Prof untuk download artikel
    Reply
  • |2011-09-07 07:00:44 Tong  - We are saling replica watches
    avatar
    www.replica-watches-top.com sell in single or Large quantities of high quality replica watches, both watches and wrist watches, in various kinds and types to different people of age and gender. We sell brands of watches such as, link:http://www.replica-watches-top.com/cartier-montres-pasha-de-carti er-c-59_63.html and many more. Famous link:http://www.replica-watches-top.com/cartier-haute-horlogerie-c-59_ 66.html with reasonable price will apparently catch your eyes. You can even buy high qualified watches with the wholesale price here. No transactions are too big or too small for us, you will always receive the top market value for your watch when you buy watches from us. In present life, watch is not only the tool for checking the time,but also a essential part of decoration for fashion. Please come to www.replica-watches-top.com quickly.No matter what we can provide link:http://www.replica-watches-top.com/cartier-montres-santos-de-cart ier-c-59_64.html watches for women, men watches, our watch store will provide you best service. Let’s start to order.? Your expectation will be matched!

    Reply
  • |2011-09-07 07:01:15 John  - To buy replica watches
    avatar
    Looking to buy a wristwatch link:http://www.replica-watches-mark.com/girardperregaux-watches-girar dperregaux-vintage-1945-king-size-watches-c-96_99.html to compliment your style or to create a new look, or do you require a new timepiece for work, sports, play or everyday use ? We stock a huge range of fashion, luxury, sports and designer watches link:http://www.replica-watches-mark.com/girardperregaux-watches-girar dperregaux-vintage-1945-king-size-watches-c-96_99.html to suit all occasions and pursuits or to make ideal gifts.Welcome to our website link:http://www.replica-watches-mark.com/.

    Reply
  • |2011-09-07 07:03:10 Jane  -  To buy replica handbags
    avatar
    link:http://www.buy-handbags-replica.com/coach-handbags-c-103.html is not just an accessory. Every single link:http://www.buy-handbags-replica.com/coach-handbags-coach-baby-bag s-c-103_109.html is a true masterpiece, which any woman is eager to have. It will express your status emphasize your individuality wherever you go. You will not stay unnoticed with a link:http://www.buy-handbags-replica.com/coach-handbags-coach-original s-handbags-c-103_105.html.Welcome to our website link:http://www.buy-handbags-replica.com/ .

    Reply
  • |2011-09-24 02:34:24 fitri  - mohon izin copy artikelnya yah pak'....
    avatar
    :love:
    wah pak' artikelnya keren. kebetulan saya lagi di tugaskan untuk buat makalah profesionalisme guru.jadi saya numpang mencopy artikelnya ya pak...oh ya sebelumnya terima kasih. artikelnya sangat membantu saya.
    Reply
  • |2011-09-30 09:02:51 watches-happy
    avatar
    link:http://www.watches-happy.com/baume-mercier-watches-baume-mercier- hampton-watches-c-5_6.html are known for their specific combination of preciseness and elegance. What make life more wonderful are occasionally just these little details. They are comfortable to hold and beautiful in design.Delicate life may start on the moment you pay for link:http://www.watches-happy.com/baume-mercier-watches-baume-mercier- hampton-watches-c-5_6.html in our shop. Glad you can make it come true.
    Reply
  • |2011-09-30 09:11:37 perfect-watches-replica
    avatar
    The elegant link:http://www.perfect-watches-replica.com/iwc-watches-iwc-da-vinci-w atches-c-116_121.html is attractively classic and well tailored, encased in fine polished metallic with straps of crocodile leather or other luxuriousness material.With an extreme attention to particulars, all link:http://www.perfect-watches-replica.com/iwc-watches-iwc-da-vinci-w atches-c-116_121.html crafted to meet the exact
    specifications of the original designs.Whatever your taste and style, a link:http://www.perfect-watches-replica.com/iwc-watches-iwc-da-vinci-w atches-c-116_121.html is a must for any occasion.nowadays, wear a greatest link:http://www.perfect-watches-replica.com/iwc-watches-iwc-da-vinci-w atches-c-116_121.htmlrepresent one's taste and position. The cheaper and best link:http://www.perfect-watches-replica.com/iwc-watches-iwc-da-vinci-w atches-c-116_121.html here is one of hot wrist watch in lowest price.
    Reply
  • |2011-09-30 09:16:04 replica-watch-brand
    avatar
    link:http://www.replica-watch-brand.com/Wholesale-longines-dolcevita-w atches_c823 attempt to not only accrual watches technics but also research and development in new area.Besides, link:http://www.replica-watch-brand.com/Wholesale-longines-dolcevita-w atches_c823pay special attention toclassical lofty design.Exquisite craftsmanship and true real fabric, the feeling of elegant can be touched easily. link:http://www.replica-watch-brand.com/Wholesale-longines-dolcevita-w atches_c823 produces superiority watches with both quartz and mechanical movements.Make sure you distinguish at will to the most stylish along with the most popular engineered watches on the perfect price!
    Reply
  • |2011-10-02 14:15:43 arif
    avatar
    Assalamualaikum wr. wb. Salam hormat sya kpd bapak,. saya terkesan dengan tulisan yang bpk buat. mhon izin kpda bpak krn sya mengcopy sbagian tulisan bpak utk bhan mata kuliah. Terima kasih..
    Reply
  • |2011-10-03 16:18:53 Mudji  - silakan mas
    avatar

    Wa alaikum salam,

    Mas Arif yth.,

    Terima kasih banyak mas telah membaca tulisan saya di web ini. Jika memang bermanfaat, silakan kopi artikel saya tsb dengan tetap mencantumkan nama saya sebagai rujukan.

    Wassalam,
    Mudji
    Reply
  • |2011-10-04 14:57:10 Kuraesin Masrifah
    avatar
    Assalamu'alaikum.. salam uhuwah pa..
    saya sangat tertarik dgn bahasan bapak, saya termasuk orang yg cinta dengan guru.. :D
    Ada yang ingin saya coba tanyakan sekaligus sharing juga dgn bapak, seperti yang telah bapak kemukakan bahwa salah satu ciri profesi adalah adanya organisasi atau asosiasi profesi itu sendiri. seperti yang telah diketahui pula, bahwa guru adalah profesi. Samapai saat ini sudah banyak upaya" pemerintah yg dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru, ada sertifikasi dan lainnya, dan sekarang yg baru saja diterapkan adalah adanya PLPG/PPG. Dalam kebijakan yg dibuat pemerintah, bahwa PLPG ini dapat dikatakan sebagai ujian ulang bagi mereka yg tidak lulus sertifikasi, dan dalam kebijakannya pula, bahwa tidak hanya lulusan yg berkualifikasi atau berlatarbelakang pendidikan saja yg boleh mengikuti, bahkan yang nonkependidikan pun boleh untuk mengikuti pendidikan profesi tersebut. Menurut bapak apakah kondisi ini berkebalikan dengan esensi dari profesi itu sendiri, yg dimana profesi itu dilatarbelakangi dari pendidikan yang menghasilkan skill khusus. Pa, bukankah dengan adanya hal seperti ini, menjauhkan dari upaya kemandirian guru seperti yang bapak rekomendasikan di akhir paper. mhon pencerahannya.. makasih pa.. :D
    Reply
  • |2011-10-05 13:32:50 Athyn Liana  - Permohonan_
    avatar
    Mohon izinnya pak; ngopy untuk bahan kuliah_ :D :)
    Reply
  • |2011-10-25 00:05:01 DANAR SUTOPO  - komitmen profesi guru
    avatar
    mohon ijin Prof...klu ada artikel ttng komitmen profesi, mohon di tampilkan...sy ingin ada penelitian laanjutan. nwn.
    Reply
  • |2011-10-26 00:24:55 om git
    avatar
    mohon ijin ngopi ya pak
    Reply
  • |2011-10-26 06:33:24 nfl jerseys uk
    avatar
    google
    sougou
    ??
    ??
    link:http://www.sina.com
    link:"http://www.baidu.com"
    link:www.google.com
    [link=http://www.yahoo.com]yahoo[/link]
    [a/]http://www.yahoo.com[a]yahoo[/a]
    Reply
  • |2011-10-28 05:10:48 yulien  - mohon ijin
    avatar
    mohon ijin ya prof untuk ngopi file bapak, tulisan bapak membantu saya untuk menyelesaikan tugas kuliah saya, trimakasih
    Reply
  • |2011-11-04 00:27:54 wahyu  - keren
    avatar
    :love: :love: asalamualaikum..........

    artikelnya sangat bagusssss......
    sangat membantu saya dalam mengerjake tugas
    Reply
  • |2011-11-12 16:59:45 Asep Saepudin  - Sistem Pendidikan dan Pelatihan yang terpadu
    avatar
    Mohon izin Prof saya copas makalah Bapak dan mohon makalah/tulisan bapak tentang sistem pendidikan dan pelatihan yang terpadu atau berjenjang sehingga dapat terukur kompetensinya!
    Reply
  • |2011-12-12 17:05:06 bambang kusuma  - ingin belajar jadi guru profesional
    avatar
    Assalammualaikum wr.wb.

    salam kenal prof, saya ingin bimbingan prof dan belajar lebih banyak dari anda anda untuk menjadi guru yg profesional, sekedar informasi prof, saya telah mengajar di smk swasta di cilegon.
    terimakasih banyak sebelumnya prof, saya sangat mengharapkan bimbingan anda.

    Wassalammualaikum wr.wb
    Reply
  • |2011-12-15 05:42:15 Sukadi  - Assalamu'alaikum wr. wb.
    avatar
    :D Saya lagi nyari bahan untuk ngisi blog tentang karya ilmiah untuk pengembangan profesi guru. Artikel Pak Prof. sangat sesuai sebagai motivator bagi guru untuk mengembangkan profesinya. Mohon izin untuk menempatkan artikel ini di blog yang saya maksud. Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.
    Reply
  • |2011-12-28 13:45:27 Lika  - Lets help the others learn
    avatar
    Ass W/W Prof.

    Menarik sekali wacana ttg profesionalisme guru yang Prof Mudjia ulas. Sebagai seorang guru saya hanya ingin menggarisbawahi pernyataan berikut :
    "Namun demikian, tetap harus diingat bahwa tugas profesional seorang pendidik adalah membantu peserta didik belajar (to help the others learn). Pekerjaan profesional juga ditandai oleh orientasinya yang lebih kepada masyarakat daripada kepada pamrih pribadi (community rather than self-interest orientation). Pekerjaan profesional juga dicirikan oleh semangat pengutamaan orang lain (altruism) dan kemanfaatan bagi seluruh masyarakat ketimbang dorongan untuk memperkaya diri pribadi."

    I agree with all that statements. Hopefully all of us, teachers are always think abt that.
    Aamiin.

    W/W
    Reply
Write comment
Your Contact Details:
Gravatar enabled
Comment:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Powered by !JoomlaComment 4.0 beta1

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated on Thursday, 15 April 2010 00:17
 
 

www.mudjiarahardjo.com 2009